CANDI YANG TERLUPAKAN DI TEPIAN CITARUM

BANDUNG — Sungai Citarum menyimpan sebuah candi yang tidak seramai dan semegah Borobudur atau Prambanan. Itulah Candi Bojongemas, candi ini hanya berupa tumpukan batu sederhana dan tanpa penjagaan. Meskipun sederhana, candi ini menyimpan bukti sejarah yang kuat bagi Jawa Barat.

Candi yang terletak di Kecamatan Solokan Jeruk Kabupaten Bandung. Memang tak banyak yang tahu keberadaan Candi Bojongemas ini, ditambah terlihat tak ada yang istimewa dari tumpukan batu di pinggiran sungai. Para warga sekitar terlihat hanya melintas saja tanpa menghiraukan keberadaan candi.

Berdasarkan kesaksian warga setempat, tumpukan batuan yang dikenal sebagai Candi Bojongemas dahulu kala tidak terletak di area daratan, melainkan berada persis di tengah-tengah aliran Sungai Citarum. Seorang warga, Herman mengonfirmasi bahwa posisi awal situs Candi Bojongemas memang berada di dalam aliran sungai Citarum. “Emang awalnya batu-batu itu kan ngga di sini tapi di sana”, ujarnya sambil menunjuk ke arah sungai. Akibat material batu tersebut sering kali terhempas oleh banjir bandang, struktur batu Candi Bojongemas akhirnya dievakuasi ke area daratan. Berbeda dengan karakteristik candi pada umumnya yang berwujud bangunan utuh tegak berdiri, Candi Bojongemas hanya menyisakan pecahan batu dengan bentuk acak. Material yang dijumpai tidak mempunyai pola baku dan hanya berwujud gundukan batu berpola macam-macam, mulai dari kotak, bulat, persegi panjang, dan sebagainya. 

Ditinjau dari aspek historis, situs ini mempunyai hubungan erat dengan eksistensi Kerajaan Kendan, sebuah kerajaan Sunda yang eksis sekitar abad ke-6 sampai ke-7 Masehi. Wilayah ini dipimpin oleh Mahaguru Manikmaya, sosok menantu dari Maharaja Suryawarman yang berasal dari Tarumanagara, sebelum pada akhirnya berkembang menjadi sebuah kerajaan berdaulat di kawasan Nagreg, Kabupaten Bandung.

Ironisnya, makna sejarah tersebut tidak dibarengi dengan proteksi yang memadai. Tembok pelindung yang dulunya sempat dibangun memutari situs sekarang sudah musnah, plang edukasi berkarat sampai pesannya hampir tak terbaca, serta absennya petugas atau pengelola yang ditugaskan mengawasi tempat tersebut.

Kurangnya kepedulian ini juga dipicu oleh hambatan regulasi birokrasi. Area tanah tempat Candi Bojongemas berada merupakan aset Balai Konservasi Sumber Daya Alam lantaran bertempat di sempadan Sungai Citarum, sehingga proses perawatannya melibatkan kerja sama antar-lembaga yang terbilang rumit. Eksplorasi ilmiah dari para arkeolog pun hampir tak pernah diselenggarakan lagi pasca penemuan perdananya, menyisakan banyak dimensi historis candi ini sebagai teka-teki yang belum terpecahkan.

Meski banyak hambatan, ekspektasi masyarakat sekitar tetap terjaga dengan baik. Warga sangat berharap pemerintah bisa memberikan atensi mendalam lagi, baik lewat pembuatan pagar baru, penugasan juru kunci, ataupun pelaksanaan riset arkeologi yang konsisten. “Harapannya mah semoga aja ada dari pemerintahan buat ngurusin lagi biar ga kayak gini” tuturnya. Karena apabila tanpa tindakan konkret, Candi Bojongemas dicemaskan lambat laun hanya menjadi memori masa lalu yang lenyap, terkikis oleh waktu seirama dengan kuatnya dorongan air Sungai Citarum yang senantiasa mengalir di dekatnya.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!