MERAWAT TRADISI BEDUK MANUAL DI GIRI PURWA SENI YANG TERANCAM PUNAH DI TELAN ZAMAN

Bengkel Giri Purwa Seni di Astanaanyar masih konsisten menjaga tradisi membuat beduk masjid secara manual. Uniknya, rahasia suara beduk yang khas di sini ada di alat penarik kulit rakitan sendiri yang dibikin langsung oleh pengrajinnya. Lewat alat buatan Pak Ardi dan Pak Sur ini, kulit sapi ditarik maksimal sampai sangat tegang agar mendapatkan kualitas presisi suara yang pas. Sayangnya, keahlian bernilai tinggi ini terancam punah karena minimnya minat dari generasi muda untuk meneruskannya, alat rakitan legendaris dan eksistensi beduk tradisional ini bisa punah tertelan zaman.

Kondisi di bengkel Giri Purwa Seni memperlihatkan bagaimana seluruh proses pembuatan beduk masih dilakukan secara autentik. Mulai dari pemilihan kayu, pengolahan kulit sapi, hingga penggunaan alat penarik kulit rakitan menjadi kunci utama yang menjaga kualitas suara beduk. Di balik dentuman beduk yang sering terdengar di masjid, terdapat proses panjang yang membutuhkan keterampilan, ketelitian, dan pengalaman yang tidak dimiliki semua orang. Namun, di tengah perkembangan zaman, para pengrajin kini harus menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan tradisi ini agar tetap dikenal oleh generasi muda. 

Saat ditemui di bengkelnya, Ardi menjelaskan bahwa pembuatan beduk tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Pemilihan bahan menjadi langkah awal yang sangat menentukan kualitas akhir. Untuk badan beduk, mereka biasanya menggunakan kayu mahoni atau kayu jati. Kayu mahoni dipilih karena lebih ekonomis, sedangkan kayu jati memiliki kualitas yang lebih baik dan daya tahan yang jauh lebih kuat. Menurut Ardi, “Kalau kayu jati memang lebih mahal, tapi kualitasnya lebih bagus dan lebih awet dibanding kayu yang lain.”

Setelah badan beduk selesai dibuat, proses berikutnya adalah pengolahan kulit sapi yang akan digunakan sebagai penutup. Menurut Sur, kulit sapi harus direndam selama kurang lebih tiga hari agar teksturnya menjadi lebih lentur dan mudah dibentuk. Tahap ini menjadi salah satu proses krusial sebelum kulit dipasang pada badan beduk. “Kulitnya direndam dulu sekitar tiga hari supaya lembek dan gampang ditarik,” jelasnya.

Hal yang paling menarik dari proses pembuatan beduk di Giri Purwa Seni adalah penggunaan alat penarik kulit yang dibuat sendiri oleh para pengrajin. Alat sederhana tersebut digunakan untuk menarik kulit hingga mencapai tingkat ketegangan yang sesuai. Sur menjelaskan bahwa ketepatan dalam menarik kulit sangat berpengaruh terhadap kualitas suara yang dihasilkan. “Kalau nariknya kurang kencang, suaranya nggak keluar maksimal. Jadi harus pas supaya bunyinya nyaring,” ujarnya.

Setelah kulit terpasang dan dipaku dengan kuat, beduk kemudian dijemur selama sekitar empat hari hingga benar-benar kering. Proses ini dilakukan secara alami dengan memanfaatkan panas matahari. Kesabaran dan ketelitian menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan dari setiap tahapan karena seluruh proses masih dilakukan secara manual tanpa bantuan mesin modern. Menurut Ardi, “Dari awal sampai jadi memang dikerjakan pakai tangan. Yang penting teliti supaya hasilnya bagus.”

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan munculnya berbagai alternatif beduk modern, Ardi dan Sur tetap memilih mempertahankan cara tradisional yang telah mereka pelajari selama bertahun-tahun. Bagi mereka, beduk tradisional bukan hanya menghasilkan suara yang lebih khas, tetapi juga menyimpan nilai budaya yang menjadi bagian dari identitas masyarakat. Namun, mereka tidak dapat memungkiri rasa khawatir karena minat generasi muda terhadap kerajinan ini semakin berkurang. “Sekarang yang beli kebanyakan orang-orang tua atau pengurus masjid. Anak muda masih jarang yang tertarik,” kata Sur. Jika kondisi tersebut terus berlanjut, keterampilan membuat beduk tradisional ini terancam hilang di masa mendatang.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!