
Kabut tipis masih menggantung di antara perbukitan ketika hamparan sawah Desa Parakanceuri mulai disinari matahari pagi. Suara aliran air, aktivitas warga di ladang, serta permainan tradisional yang dimainkan anak-anak menghadirkan suasana yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk perkotaan. Di desa yang terletak di Kabupaten Purwakarta ini, pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan, tetapi juga mencari ketenangan yang perlahan hilang dari kehidupan urban.
Dalam beberapa tahun terakhir, wisata pedesaan (rural tourism) dan konsep slow living mengalami peningkatan minat karena dianggap mampu menghadirkan ketenangan, kedekatan dengan alam, serta pemulihan kondisi psikologis. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada tahun 2024 mencatat munculnya tren wisata yang berorientasi pada kesehatan mental dan pencarian pengalaman yang lebih tenang pasca pandemi. Sementara itu, Diskominfo Purwakarta juga menyoroti meningkatnya minat terhadap wisata pedesaan sebagai bentuk pencarian keseimbangan hidup dan kesejahteraan psikologis. Suasana seperti itulah yang kemudian ditawarkan oleh Desa Wisata Parakanceuri.
Pasalnya, di desa ini kamu bisa melihat kekayaan alam yang sangat memanjakan mata, baik pesawahan, perkebunan, maupun pegunungan yang disertai dengan air terjun yang indah. Selain para pengunjung menikmati keindahan alam, mereka juga merasakan bagaimana hidup seperti orang desa. “Ya betul, kami menawarkan kepada pengunjung penginapan yang terintegrasi dengan alam, seperti pondok pondok tradisional yang memadukan kenyamanan modern dengan sentuhan kearifan lokal, tidak lupa juga banyak kuliner UMKM Khas yang bisa wisatawan nikmati sambil berwisata, bahkan juga bisa mengikuti aktivitas warga setempat, seperti ngosrek, nandur, ngarit, sampai dengan uulinan tradisional khas orang sunda,” tutur Edi, seorang pengelola wisata usai diwawancarai di Desa Parakanceuri, Kabupaten Purwakarta, Sabtu (09/11/2025).
Lebih jauh, pengalaman wisata yang ditawarkan Parakanceuri tidak hanya berkaitan dengan aspek rekreasi, melainkan juga menyentuh dimensi pelestarian budaya lokal. Di tengah arus modernisasi dan urbanisasi yang semakin kuat, identitas budaya masyarakat Sunda menghadapi tantangan yang cukup serius. Menurut juru pelihara Desa wisata Kampung Parakanceuri, yang disapa dengan panggilan Agus (sekitar 40 tahun), sedikit sekali orang di zaman ini yang hidup dengan identitas budaya yang kuat, mereka hidup sekadar hidup, tanpa makna dan tujuan.
Kekhawatiran tersebut sejalan dengan berbagai data yang menunjukkan terjadinya penurunan penggunaan bahasa daerah. Data BPS dan UNESCO menyoroti menurunnya jumlah penutur bahasa Sunda dalam satu dekade terakhir, yang mengindikasikan adanya pergeseran budaya di tengah masyarakat. Dalam konteks inilah Desa Wisata Parakanceuri tidak hanya berfungsi sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai ruang pewarisan budaya yang memungkinkan wisatawan berinteraksi secara langsung dengan praktik-praktik kehidupan masyarakat Sunda yang mulai jarang dijumpai di lingkungan perkotaan.
Kesadaran akan semakin memudarnya identitas budaya lokal mendorong masyarakat dan pemuda Parakanceuri untuk mencari cara agar nilai-nilai budaya tetap hidup sekaligus mampu menjawab persoalan sosial dan ekonomi yang dihadapi desa. Karena itu, Parakanceuri kemudian dikembangkan menjadi desa wisata dengan menggali potensi alam, sejarah, dan kearifan lokal yang dimiliki. “Jadi, warga di sini kan mata pencahariannya bertani, bukan hanya padi, tetapi juga kopi dan teh. Cuman makin ke sini permintaan supply itu semakin menurun. Kami akhirnya memutuskan untuk memanfaatkan kemewahan alam Desa Parakanceuri menjadi desa wisata dengan konsep Edu-Ecowisata untuk menyasar dunia pendidikan, apalagi desa ini punya sejarah yang panjang,” ujar Ugi, Minggu (09/11/2026).
Konsep Edu-Ecowisata yang dikembangkan di Desa Parakanceuri kemudian diwujudkan melalui berbagai aktivitas yang melibatkan wisatawan secara langsung. Beragam kegiatan tersebut sengaja dirancang agar pengunjung memperoleh pengalaman yang lebih bermakna, tidak hanya sekadar berfoto atau menikmati pemandangan, tetapi juga memahami kehidupan masyarakat, sejarah desa, serta nilai-nilai budaya lokal yang masih dipertahankan.
