
Suasana khas budaya Sunda langsung terasa saat memasuki Museum Prabu Siliwangi di Kota Sukabumi. Deretan arca megalitik, keramik kuno dari berbagai dinasti Tiongkok, hingga mushaf Al-Qur’an dan naskah bersejarah tersimpan rapi di setiap ruang museum. Museum ini juga menarik perhatian karena aktif melestarikan permainan tradisional Sunda seperti maen bola lengeun dan ngagotong lisung yang telah mendapat pengakuan budaya dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Pengelola Museum Prabu Siliwangi di Kota Sukabumi terus berupaya menjaga dan memperkenalkan warisan budaya Sunda, Padjajaran dan Islam kepada masyarakat melalui berbagai koleksi bersejarah yang dimiliki Museum. Selain menyimpan berbagai macam artefak kuno dan naskah bersejarah, pengelola Museum juga selalu aktif melestarikan permainan tradisional sebagai bagian dari upaya menjaga budaya lokal dan mewariskannya kepada generasi muda.
Museum Prabu Siliwangi yang berada di kawasan Pondok Pesantren Dzikir Al – Fath memiliki berbagai koleksi bernilai sejarah dan budaya. Museum ini terbagi menjadi tiga ruangan utama, yaitu ruang sejarah umum, ruang sejarah Padjajaran, dan ruang sejarah Islam. Di dalamnya tersimpan berbagai koleksi seperti arca batu peninggalan budaya megalitik, keramik kuno dari Dinasti Tang, Ming, Yuan, hingga Qing, mushaf Al-Qur’an, naskah kuno, keris, serta peralatan batu zaman megalitikum.
“Museum ini kami dirikan bukan hanya untuk menyimpan benda-benda bersejarah, tetapi juga untuk menjaga identitas budaya Sunda agar tetap dikenal oleh masyarakat, khususnya generasi muda. Kami ingin pengunjung tidak hanya melihat koleksi, tetapi juga memahami nilai sejarah, budaya, dan perjuangan para leluhur yang terkandung di dalam setiap benda yang dipamerkan,” ujar irfan selaku pihak pengelola museum saat diwawancarai.
Sebagai museum yang berfokus pada pelestarian budaya Sunda, Museum Prabu Siliwangi tidak hanya menampilkan koleksi dari satu periode sejarah, tetapi juga menghadirkan perjalanan panjang peradaban yang berkembang di Tatar Sunda. Mulai dari peninggalan masa prasejarah, jejak Kerajaan Padjajaran, hingga perkembangan Islam di wilayah Sukabumi dapat ditemukan dalam berbagai koleksi yang dipamerkan. Keberagaman tersebut menjadikan museum ini sebagai sumber informasi dan pembelajaran yang penting bagi masyarakat yang ingin memahami sejarah dan budaya Sunda secara lebih mendalam.
Berbeda dengan Museum pada umumnya, Museum ini menciptakan dan melestarikan budaya tak benda khas sunda seperti permainan bola leungeun seneu, ngagotong lisung, pengobatan herbal sunda serta pencak silat aliran Maung Bodas yang telah mendapatkan hak kekayaan intelektual dan pengakuan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat pada Tahun 2023.
Museum yang dibangun oleh Prof. Dr. KH M. Fajar Laksana, SE.,CQM.,MM.,Ph.D ini diresmikan pada 4 Mei 2011 oleh Ahmad Heryawan bersamaan dengan peresmian kawasan wisata pendidikan Islam Qoriyah Toyibah Mubarokah di lingkungan Pesantren Modern Dzikir Al-Fath Sukabumi. Keberadaan museum tersebut juga pernah mendapat perhatian nasional setelah dikunjungi oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Bapak Dr. H. Fadli Zon S.s., M.Sc pada 29 Januari 2025.
