Kabuyutan Cipageran sebagai Penjaga Kebudayaan Sunda ditengah Arus Modernisasi

Kabuyutan Cipageran tetap berdiri sebagai penjaga jejak leluhur Sunda yang sarat nilai sejarah dan budaya. Kabuyutan Cipageran yang berlokasi di Cimahi diyakini telah ada sejak masa Kerajaan Sunda. bukan sekadar destinasi wisata, melainkan artefak yang menyimpan amanat leluhur, tradisi, hingga kearifan lokal yang terus dijaga oleh penerusnya. 

Keberadaan Kabuyutan Cipageran hingga kini tidak terlepas dari peran masyarakat lokal yang terus menjaga kesakralan dan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Berbagai tradisi dan upaya pelestarian dilakukan dan diwariskan  secara turun-temurun sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur, sekaligus menjaga agar situs bersejarah ini tetap hidup di tengah perkembangan 

Beragam aktivitas budaya terus dihidupkan di kawasan Kabuyutan Cipageran, mulai dari pelaksanaan ritual adat, pelestarian kesenian tradisional, hingga pengenalan nilai-nilai filosofi Sunda kepada generasi muda. Upaya tersebut menjadi bukti bahwa modernisasi tidak selalu menghapus budaya lokal, melainkan dapat berjalan berdampingan apabila masyarakat memiliki kesadaran untuk menjaga warisan leluhur. Kehadiran pelajar, mahasiswa, hingga wisatawan yang datang untuk belajar semakin memperkuat fungsi Kabuyutan sebagai pusat edukasi budaya.

Warga sekitar juga aktif berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong, pemeliharaan lingkungan situs, serta pelaksanaan tradisi adat yang rutin diselenggarakan. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, dan komunitas budaya menjadi fondasi penting agar nilai-nilai budaya Sunda tetap lestari dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Tradisi menarik di Kabuyutan Cipageran adalah tradisi “ngawin cai”, tradisi ini merupakan simbol penyatuan dua sumber mata air yang dianggap sebagai lambang keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Prosesi dilakukan melalui doa bersama, penyatuan air dari dua mata air, serta diiringi kesenian dan adat Sunda sebagai bentuk rasa syukur atas keberlangsungan sumber kehidupan. 

Pada tahun 2019, acara ini diselenggarakan dan mengundang banyak tokoh besar diantara nya mantan guber JABAR Ridwan Kamil. Tradisi ini bahkan sampai melibatkan 135 kabuyutan dari seluruh Indonesia, bahkan Thailand, dengan air dari berbagai sumber dicampur untuk melambangkan persatuan NKRI.

Prosesi Kawin Cai di Cimahi mengikuti tiga tahap utama,  Pertama, pengambilan air “pengantin laki- laki” dari Balong Dalem atau sumber lokal seperti Cipageran, dilakukan oleh sesepuh dengan kendi tanah liat, diiringi doa dan siraman. Kedua, pengambilan air “pengantin perempuan” dari sumber tetangga atau simbolis dari Nusantara, disambut dengan arak- arakan lengser, tarian perempuan, dan musik degung. Ketiga, pencampuran air di lokasi utama seperti Kabuci, diakhiri makan bersama dan doa, sering pada malam Jumat Kliwon di bulan Ruwah atau kemarau panjang.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!