KAMPUNG DUKUH PENERUS AJARAN ARIF MUHAMMAD

Jalan tanah yang menanjak, pepohonan lebat yang menjadi pagar alami, dan suara adzan yang bergema berpadu dengan kicau burung. Itulah kesan pertama siapa pun yang menginjakkan kaki di Kampung Adat Dukuh. Tersembunyi di balik bukit di Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, kampung ini bukan sekadar pemukiman biasa. Ia sering disebut sebagai jendela waktu, yaitu sebuah komunitas yang memilih untuk hidup dalam ritme yang ditetapkan leluhur, jauh sebelum listrik menerangi lorong-lorong Indonesia.

Masyarakat Dukuh menyebut diri mereka sebagai “keturunan Arif Muhammad”, seorang ulama dan tokoh adat yang dipercaya meletakkan fondasi kehidupan bermasyarakat di lembah tersebut berabad silam. Warisan terbesarnya bukan harta benda, melainkan sebuah tatanan. Bahwa Islam bukan sekadar ritual, melainkan cara hidup yang mengatur setiap sendi kehidupan dari bangun tidur hingga mengelola hutan. Kuncen (pemimpin adat sekaligus penjaga spiritual kampung) memegang peranan sentral dalam masyarakat Dukuh. Jabatan ini tidak dipilih melalui mekanisme demokrasi modern, melainkan diwariskan secara turun-temurun dalam garis keturunan pendiri kampung. Kepercayaan masyarakat kepada kuncen bukan sekadar tradisi, ia adalah fondasi kohesi sosial yang telah teruji selama berabad-abad.

Tidak adanya listri menjadi salah satu ciri khas yang paling menonjol dari Kampung Dukuh bagian dalam. Ini bukan kelalaian pemerintah, melainkan keputusan adat yang disepakati turun-temurun. Warga meyakini bahwa masuknya listrik akan membawa serta televisi, telepon genggam, dan segala sesuatu yang dianggap dapat menggeser prioritas hidup dari ibadah dan kebersamaan menuju hiburan dan individualisme.

Lampu minyak berkedip lembut di malam hari, dan setelah Isya, suara mengaji bergema dari rumah ke rumah. Anak-anak tidak menghabiskan malam dengan menonton televisi dan berselancar di layar handphone. Mereka duduk melingkar, menghafal Al-Qur’an di bawah bimbingan orang tua dan tetua. Rutinitas ini dirasakan setiap malam di kampung dukuh dalam.

Sementara “Dukuh Luar” pemukiman warga yang tinggal di luar wilayah adat inti boleh menggunakan teknologi modern, namun mereka tetap tunduk pada nilai-nilai inti yang sama. Batas fisik ini menciptakan gradasi adaptasi yang menarik. Modernitas tidak ditolak sepenuhnya, melainkan dikelola dengan kebijaksanaan.

Dukuh memiliki seperangkat aturan adat yang dikenal sebagai pamali atau larangan. Tidak semua larangan bersifat mistis, sebagian besar berakar langsung pada nilai-nilai Islam yang diterjemahkan ke dalam konteks lokal.

Kunjungan ke Dukuh memberi kita lebih dari sekadar panorama budaya yang eksotis. Ia mengajukan pertanyaan yang relevan untuk semua orang: Apa yang sesungguhnya kita pertahankan ketika kita berkata ingin menjaga tradisi? Dan apa yang sesungguhnya kita korbankan ketika kita berkata ingin maju? Masyarakat Dukuh, dengan segala keterbatasan dan kekayaannya, telah menemukan jawaban mereka sendiri dan jawaban itu bertahan, dari generasi ke generasi, teguh seperti akar pohon di lereng bukit yang tak mau goyah.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!