
Patung sepatu yang dahulu menjadi ikon dan penanda kawasan Cibaduyut kini telah menghilang seiring pembangunan flyover. Bersamaan dengan itu, keramaian toko-toko sepatu yang pernah menjadi denyut ekonomi kawasan ini juga perlahan memudar akibat pergeseran pola belanja masyarakat ke marketplace yang lebih praktis. Di tengah perubahan tersebut, para pelaku usaha sepatu Cibaduyut dihadapkan pada tantangan besar untuk mempertahankan eksistensinya. Lalu, bagaimana mereka beradaptasi agar tetap bertahan di era perdagangan digital?
Perubahan tersebut dirasakan langsung oleh Sahda Fauziah (23), generasi ketiga yang melanjutkan usaha sepatu milik keluarganya di kawasan Cibaduyut. Usaha yang telah dirintis sejak sekitar tahun 1990-an itu kini menghadapi kondisi yang berbeda dibandingkan masa kejayaannya dahulu. Menurut Sahda, jumlah pembeli yang datang langsung ke toko terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. “Kalau dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, sekarang memang lagi menurun untuk omzetnya. Pengunjung wisata yang datang ke Cibaduyut juga berkurang. Dulu banyak wisatawan dari luar kota yang sengaja datang untuk berbelanja sepatu, apalagi saat musim liburan,” ujarnya saat diwawancarai.
Menurunnya jumlah pengunjung tidak hanya dipengaruhi oleh berkurangnya wisatawan, tetapi juga perubahan perilaku masyarakat dalam berbelanja. Kemudahan bertransaksi melalui marketplace membuat banyak konsumen lebih memilih membeli produk secara daring dibandingkan datang langsung ke toko. Kondisi ini mendorong para pelaku usaha untuk mulai memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana pemasaran.
Sebagai bentuk adaptasi, Sahda dan keluarganya mulai membuka toko daring sekitar dua hingga tiga tahun terakhir. Meski demikian, ia mengaku bahwa penjualan melalui toko fisik masih menjadi sumber pemasukan utama. “Kalau untuk pemasukan, sebenarnya masih lebih banyak dari offline. Di toko langsung perputaran uangnya lebih cepat, sedangkan di e-commerce pencairannya harus menunggu beberapa hari sampai satu minggu,” jelasnya.
Selain perubahan pola belanja, persaingan dengan produk impor juga menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha lokal. Menurut Sahda, produk impor sering kali lebih unggul dari segi harga dan desain sehingga lebih mudah menarik perhatian konsumen. “Kalau kualitas mungkin bisa bersaing, tapi dari segi harga dan desain produk impor sering lebih menarik. Itu yang membuat produk lokal agak kesulitan,” katanya.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Sahda menilai bahwa peran generasi muda sangat penting dalam membantu perkembangan industri sepatu Cibaduyut. Ia melihat masih banyak pelaku usaha yang belum terbiasa memanfaatkan teknologi digital untuk memasarkan produknya. Karena itu, keterlibatan generasi muda dalam promosi melalui media sosial dan platform digital menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk memperluas pasar.
Meski menghadapi berbagai perubahan, optimisme masih tetap tumbuh di kalangan pelaku usaha. Sahda berharap Cibaduyut dapat kembali ramai dikunjungi sehingga roda perekonomian masyarakat sekitar dapat bergerak lebih baik. Baginya, mempertahankan usaha keluarga bukan hanya soal menjaga sumber penghasilan, tetapi juga menjaga warisan industri sepatu yang telah menjadi bagian dari identitas Cibaduyut selama puluhan tahun.
