
Siapa yang tidak mengenal situs bersejarah di sudut Kota Hujan? Prasasti Batutulis Bogor menjadi salah satu peninggalan monumental yang mengisahkan kejayaan masa lalu Kerajaan Sunda. Peninggalan kuno ini telah lama dikenal oleh masyarakat luas karena memiliki nilai historis yang mendalam dan pesona spiritual yang kuat. Hingga kini, keberadaannya masih dihormati dan ramai dikunjungi oleh berbagai kalangan masyarakat. Tidak sedikit orang menjadikannya sebagai destinasi utama untuk memahami akar budaya lokal, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari kekayaan historis daerah.
Situs peninggalan sejarah yang dimaksud adalah Prasasti Batutulis. Menurut salah satu juru pelihara sekaligus pemandu situs, Saleh (48), batu bersurat kuno ini diperkirakan telah ada sejak tahun 1533 Masehi dan menjadi identitas historis utama Kota Bogor, Jawa Barat. Terbuat dari batu alam berjenis andesit yang dipahat dengan ketelitian tinggi, prasasti ini memuat bait-bait penghormatan dalam aksara Sunda Kuno yang mengisahkan kebesaran Raja Sunda yang legendaris. Saleh menjelaskan bahwa penulisan prasasti ini diinisiasi oleh Raja Surawisesa, yang merupakan putra dari Sri Baduga Maharaja, sebagai bentuk penghormatan sakral dan penanda batas wilayah kekuasaan yang sah bagi generasi berikutnya.
Dalam wawancara yang kami lakukan pak Agus selaku juru kunci pada prasasati tersebut menyebutkan Pada awal keberadaannya, Prasasti Batutulis tidak dibuat sebagai konsumsi publik atau objek wisata seperti sekarang. Raja Surawisesa memahat batu tersebut sebagai bagian dari ritual upacara adat pasca-wafatnya sang ayah, Sri Baduga Maharaja atau yang lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi. Prosesi pembuatan batu tulis ini dilakukan di area suci kabuyutan yang menjadi tempat peristirahatan atau meditasi keluarga kerajaan terdahulu. Dalam perkembangannya, area di sekitar prasasti dipandang suci oleh masyarakat adat setempat, sehingga keberadaannya senantiasa dijaga dari kerusakan fisik dan perubahan lingkungan. Seiring bergulirnya waktu, barulah pada era kolonial abad ke-19, kompleks purbakala ini mulai diteliti secara ilmiah oleh para arkeolog asing dan dikembangkan menjadi situs cagar budaya nasional.
Nama situs Batutulis ini ternyata melekat erat karena keunikan fisik serta lokasi penemuannya yang strategis di jalur perlintasan kuno. Agus menjelaskan bahwa meskipun secara administratif berada di Kelurahan Batutulis, esensi penamaannya murni merujuk pada batu alam yang digurati teks sejarah otentik. “Prasasti ini dipahat langsung pada batu monolit alami, dan karena sejak zaman dahulu warga sekitar melihat ada tulisan di atas batu besar tersebut, maka daerah ini lambat laun dinamakan Kampung Batutulis,” ujarnya saat ditemui di lokasi situs. Pola penamaan yang bersahaja ini mempermudah ingatan kolektif masyarakat lintas zaman untuk mengenali situs peninggalan penting Kerajaan Pajajaran tersebut.
Proses pelestarian dan perawatan batu bersejarah ini hingga kini masih mempertahankan tata cara tradisional yang diwariskan oleh para leluhur penjaga situs. Bahan utama yang digunakan untuk membersihkan guratan aksara dari lumut dan debu tebal adalah cairan alami non-kimia, seperti air perasan jeruk nipis dan air murni tanpa campuran detergen. Penggosokan batu dilakukan dengan sangat hati-hati menggunakan sikat halus agar tidak mengikis struktur batuan purba yang mulai rapuh dimakan usia. Setelah dibersihkan, ruangan tempat batu bersemayam diberi wewangian alami berupa bunga tujuh rupa dan asap kemenyan secukupnya guna menjaga atmosfer sakral yang melekat pada peninggalan purbakala tersebut.
Di tengah pesatnya perkembangan infrastruktur kota modern, para pengelola situs dan budayawan lokal terus berjuang menghadapi tantangan pelestarian fisik bangunan. Menurut Saleh, getaran dari kendaraan bermotor yang melintas di jalan raya utama depan situs menjadi salah satu ancaman laten terhadap kestabilan struktur pondasi batu kuno. Selain itu, pihak pengelola juga harus bijak mengelola tata ruang hijau di sekitar cungkup agar kelembapan udara tetap stabil dan ramah bagi material andesit purba. Berkat kerja sama yang sinergis dengan dinas kebudayaan dan komunitas pencinta sejarah, kawasan sekitar situs kini ditata lebih rapi dengan papan informasi edukatif, sehingga mampu meminimalisasi risiko vandalisme sekaligus mengedukasi generasi muda.
Keberadaan Prasasti Batutulis Bogor tidak hanya menjadi simbol kegemilangan masa lalu Kerajaan Sunda Pajajaran, melainkan juga mencerminkan keteguhan hati masyarakat dalam merawat memori kolektif bangsa. Di tengah derasnya arus modernisasi dan pembangunan urban, upaya pelestarian yang konsisten dari para juru pelihara menjadi pilar utama agar nilai luhur serta amanat sejarah di dalam prasasti tetap hidup dan dapat diwariskan dengan utuh kepada generasi mendatang.
