Adat Berkumpul di ‘Rumah Godang’ Masyarakat Kenegerian Benai

Masyarakat berbondong-bondong datang selama setahun menanti pertemuan dengan sanak saudara di Rumah Godang. Para petinggi suku bermusyawarah seperti merancang sebuah kemajuan yang akan menangguhkan kenegerian benai selama seribu tahun mendatang.

Pasalnya, setiap tanggal 2 syawal Balai Adat Kenegerian Benai yang bertepatan di desa Koto Benai, niniak mamak meremukkan berbagai macam perkara di Balai Adat tentang hal yang terjadi di Negeri Benai. Tanpa terkecuali kepala suku beserta jajaran mulai dari suku Melayu, Paliang, Chaniago dan Patopang menghadiri pertemuan tersebut. Menurut Samsul (Menti suku Chaniago,44 tahun), hal ini telah dilakukan sedari dulu. 

“Paginya sebelum makan dan bersua di Rumah Godang, selalu ada musyawarah kami para petinggi di suku. Pembahasan mulai dari hal terkecil seperti di mana seharusnya menggembalakan domba agar tidak merugikan masyarakat yang bertani khususnya sayur sayuran” tuturnya didepan Rumah Godang Chaniago. Menurut Samsul, antusias masyarakat kalangan tua (Gen Boomer dan Gen Z) semakin meningkat. Apa yang diwariskan oleh nenek moyang kita memiliki makna dan simbolis yang kaya. Setelah hal dan perkara selesai di canangkan, selanjutnya kita makan bersama di Rumah Godang. 

“Makanan modern seperti pancake, mochi dan sebagainya tidak dibawa. Para sanak saudara membawa makanan masing masing dengan dengan menggunakan rantang atau panci susun. Makanan nasi, sambal ikan teri, gulai jengkol, pete, ikan asin mengisi rantang” ungkap Samsul. 

Samsul menambahkan, ini dilakukan agar modernisasi tidak mengalahkan budaya (makanan) yang telah ada. Sanak saudara dijamu dengan makanan seperti demikian agar merasakan keaslian makanan tradisional yang kita miliki, tidak kalah nikmat dengan makanan modern. Setelah makan, Mamak soko menyampaikan hasil putusan musyawarah pagi tadi. Petuah dan nasehat tidak luput disampaikan kepada cucuang kamanakan (cucu dan keponakan). 

“Perhatikan pergaulan anak, dengan siapa dia bergaul. Hidup di negeri yang beradat memaksa dan membuat kita penuh aturan. Jangan sampai masuk ke lubang setan” tutur kepala suku Paliang di rumah Godang Rumah Panjang. Setelah menyampaikan nasehat dan petuah, sanak saudara dipersilahkan bubar dan menikmati hiburan seperti panjat pinang dan silat khas Benai. 

Budaya ini sudah mengakar kuat di dalam sanubari masyarakat Benai. Kita berharap budaya ini tidak lekang karena zaman yang semakin modern. Pengenalan budaya tradisional kepada generasi sekarang diyakini sebagai estafet nantinya. Besar harapan agar ini bertahan dan mendapat antusias oleh masyarakat.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!