
Berdiri kokoh sejak 1933, Masjid Besar Cipaganti memadukan gaya Art Deco rancangan arsitek Wolff Schoemaker dengan atap tajug bertumpuk khas Jawa. Bangunan bersejarah di utara Bandung ini merekam jejak masa lalu yang panjang, mulai dari tempat diskusi Soekarno hingga lokasi persembunyian tentara PETA pada era 1950-an.
Meskipun usianya sudah hampir satu abad, keaslian bentuk Masjid Besar Cipaganti tetap dijaga dan dirawat dengan baik. Sampai saat ini, bangunan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah sehari-hari, tetapi juga menjadi bukti nyata sejarah Kota Bandung. Mengingat banyaknya peristiwa penting yang pernah terjadi di sana, peran masjid ini pada masa lalu ternyata jauh lebih besar dari sekedar tempat untuk shalat.
Sejarah panjang masjid ini sejatinya bermula jauh sebelum bangunannya berdiri. Menurut Sekretariat Masjid Besar Cipaganti, Nono Firdaus, di lokasi tersebut awalnya hanya terdapat sebuah tajug sederhana yang diyakini sudah ada sejak kisaran tahun 1878 atau 1887. Barulah pada masa Hindia Belanda, tepatnya 7 Februari 1933, bangunan yang dulu dikenal sebagai Kaum Cipaganti ini resmi didirikan. “Arsiteknya adalah keturunan orang Belanda, Wolff Schoemaker. Beliau ini dulu salah satu pegawai negara di bagian tata kota,” ungkap Nono menceritakan sosok arsitek yang juga merancang bangunan ikonik Villa Isola tersebut.
Sentuhan Schoemaker menghasilkan perpaduan estetika yang sarat akan makna, mengawinkan gaya Eropa yang elegan dengan nilai-nilai tradisional Jawa. Unsur Eropa sangat kental terasa pada detail ornamen bangunan, terutama pada bagian depan. “Gapura depan utama itu kayak di Prancis kalau kita lihat. Terus lampu di tengah itu dari dulu seperti itu, tidak pernah dibuka (diganti),” jelas Nono. Sementara itu, identitas lokal Jawa menonjol kuat pada struktur atap kuda-kuda dan empat tiang utama penyangga di ruang tengah masjid.
Menariknya, empat tiang penopang tersebut bukan sekedar struktur arsitektur peninggalan masa lalu, melainkan menyimpan filosofi islam yang mendalam. Nono memaparkan bahwa keempat tiang tersebut melambangkan kekuatan agama yang direpresentasikan oleh empat sahabat Nabi (Khulafaur Rasyidin, sedangkan menara masjid diibaratkan sebagai sosok Nabi Muhammad SAW. “Sehingga untuk tangga ke menara itu masih ada sampai saat ini, cuma sekarang ditutup plafon. Kalau dulu kan tidak pakai pengeras suara, sehingga muazin dari sini langsung naik tangga ke atas,” tambahnya menceritakan rutinitas pada masa lalu.
Karena keberadaan masjid masih sangat jarang pada era tersebut, masyarakat Bandung Utara selalu menjadikan Masjid Cipaganti sebagai kiblat aktivitas ibadah, termasuk untuk urusan pernikahan yang dikelola oleh penghulu setempat. Mengingat nilai historisnya yang tinggi, ruang utama masjid ini telah berstatus sebagai Cagar Budaya. Artinya, setiap upaya pemugaran atau perbaikan struktur utama harus melewati perizinan ketat dari dinas terkait demi menjaga keaslian wujudnya.
Tidak hanya berperan dalam syiar agama, masjid ini juga menjadi saksi bisu perjuangan bangsa indonesia. Nono mengonfirmasi bahwa masjid ini pernah menjadi lokasi persinggahan Presiden pertama negara Indonesia, Ir. Soekarno. Lebih dari sekedar mampir untuk shalat, tempat suci ini bahkan sempat dijadikan titik penting untuk menyusuk taktik perlawanan. “Dulu itu kan Soekarno singgah di sini. Terus bahkan istilahnya mengatur strategi perang sempat juga di Masjid Cipaganti,” papar Nono.
Saat ini, di tengah perkembangan Kota Bandung, Masjid Besar Cipaganti masih berdiri kokoh dan terjaga keasriannya. Catatan sejarahnya pun masih diingat dengan baik, termasuk kunjungan tokoh-tokoh penting seperti Bung Karno, Megawati, hingga Presiden Joko Widodo. Pada akhirnya, selain berfungsi sebagai tempat ibadah sehari-hari, masjid ini menjadi salah satu peninggalan sejarah Kota Bandung yang terus dirawat untuk generasi mendatang.
Foto Sampul: Nono Firdaus (Sekretariat Masjid Besar Cipaganti)
