
Langkah seakan terbawa ke sebuah kampung yang tersembunyi dibalik hijaunya perbukitan Garut yaitu Kampung Adat Pasir yang terletak di Desa Cintakarya, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Di tempat ini waktu seolah berjalan dengan caranya sendiri. Bukan karena masyarakat di Kampung Adat Pasir menolak zaman, melainkan mereka tahu nilai-nilai leluhur mana yang harus dijaga dan diwariskan. Salah satu warisan yang hingga kini tetap hidup di tengah masyarakat Sunda Wiwitan adalah Pikukuh Tilu, tiga pedoman hidup yang menjadi landasan spiritual sosial masyarakat Kampung Adat Pasir.
Lantunan doa mengawali Ritual Rahayu Ampih Pare di Kampung Adat Pasir. Dipimpin Abah Yayan selaku kuncen kampung, ritual tersebut menjadi ungkapan syukur masyarakat Sunda Wiwitan atas hasil panen sekaligus mencerminkan nilai-nilai Pikukuh Tilu yang masih diwariskan dan dijalankan sebagai pedoman hidup hingga saat ini. Bagi sebagian orang, istilah tersebut mungkin terdengar asing. Namun, bagi masyarakat Kampung Adat Pasir, keduanya bukan sekadar tradisi, melainkan pedoman hidup yang terus dijaga hingga kini.
Pergantian generasi ke generasi selanjutnya yang ada di Kampung Adat Pasir tidak menghapus jejak leluhur sebelumnya yang telah lama tertanam dalam kehidupan masyarakat. Nilai-nilai yang ditinggalkan leluhur tetap bertahan dan terus hidup meskipun arus perubahan terus berjalan, warisan leluhur terus dirawat dan dijaga baik oleh masyarakat Kampung Adat Pasir.
Menurut Abah Endan, sesepuh Kampung Adat Pasir, ajaran yang kini dikenal sebagai Pikukuh Tilu telah diwariskan secara turun-temurun dalam tradisi Sunda Wiwitan. Ajaran tersebut memiliki keterkaitan dengan Cigugur, Kuningan, yang menjadi salah satu pusat perkembangan Sunda Wiwitan. Nilai-nilai yang diwariskan para leluhur itu terus dijaga dari generasi ke generasi dan menjadi pedoman hidup masyarakat Kampung Adat Pasir hingga saat ini.
Warisan ajaran Pikukuh Tilu tetap berdenyut di kehidupan Kampung Adat Pasir. Ia hadir dalam kebiasaan, tata krama, dan cara pandang masyarakat yang menempatkan manusia, alam, dan kehidupan dalam satu keselarasan yang utuh. Ajaran Pikukuh Tilu bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu Ngaji Badan yang mencakup Ngaji Diri dan Ngaji Rarasa, lalu Mituhu Kana Tanah Taneh Amparan Jeng Tanah Taneh Adegan di mana amparan itu Bumi dan adegan itu diri kita sendiri, dan yang ketiga Taat Kepemerintahan.
Melalui Ngaji Badan, masyarakat diajak menengok ke dalam dirinya sendiri, mendengar suara hati, dan memaknai makna hidup yang tersimpan dibalik pengalaman. Sementara ajaran Mituhu Kana Tanah Taneh Amparan Jeng Tanah Taneh Adegan mengingatkan bahwa manusia lahir dari tanah yang sama dan hidup berdampingan dengan alam yang memberi kehidupan. Menjaga bumi sama halnya seperti kita menjaga diri sendiri, sebagaimana merawat diri berarti menghormati kehidupan yang dititipkan oleh Sang Pencipta.
Pikukuh Tilu juga mengajarkan hubungan antar manusia, dan hubungan antar bangsa. Dalam hubungan antar manusia, ada nilai-nilai seperti Ulas Asih, Undak Usup, Tata Krama, Budidaya Budi Bahasa, Wiwahayu dan Nagara yang menjadi pegangan hidup sehari-hari. Sementara pada hubungan Antar Bangsa, Perbedaan Rupa, Bahasa, Adat, Aksara, dan Budaya bukan dilihat sebagai jurang pemisah melainkan sebagai kekayaan yang memperindah kehidupan, bak ragam warna yang berpadu dalam satu bentang langit yang sama.
Di tengah perubahan zaman yang terus bergerak, masyarakat Kampung Adat Pasir tetap berupaya menjaga nilai-nilai tersebut agar tidak luntur oleh waktu. Ajaran Pikukuh Tilu tidak hanya tersimpan dalam cerita para sesepuh, tetapi juga hidup dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Melalui nilai-nilai yang diwariskan secara turun-temurun, Kampung Adat Pasir menujukkan bahwa menjaga tradisi bukan berarti menolak kemajuan, tetapi merawat kebijaksanaan lehur agar tetap relevan dalam kehidupan masa kini.
Kampung Adat Pasir menunjukkan bahwa menjaga ajaran Pikukuh Tilu bukan hanya sekadar mempertahankan tradisi yang diwariskan tetapi juga menjadi cerminan cara hidup masyarakat Kampung Adat Pasir dalam merawat harmoni dengan sesama alam, dan Sang Pencipta di tengah kehidupan modern yang terus berkembang.
