
Siapa yang tidak mengenal camilan manis berbentuk bulat khas Majalaya? Makanan tradisional ini telah lama dikenal oleh masyarakat luas karena memiliki cita rasa yang khas dan tekstur yang lembut. Hingga kini, makanan tersebut masih digemari masyarakat dari berbagai kalangan. Tidak sedikit orang yang menjadikannya sebagai oleh-oleh khas dari Majalaya. Keberadaannya pun menjadi bagian dari kekayaan kuliner tradisional daerah.
Camilan tradisional yang dimaksud adalah borondong. Menurut salah satu pengrajin borondong, makanan khas ini telah ada sejak tahun 1920-an dan menjadi identitas kuliner Majalaya, Kabupaten Bandung. Terbuat dari beras ketan yang diproses hingga mengembang kemudian dicampur dengan gula merah cair, borondong memiliki rasa manis yang khas serta tekstur renyah yang disukai banyak orang. Yeti menjelaskan bahwa borondong pertama kali dibuat oleh Ambu Enit, seorang warga Kampung Sangkan, Ibun, yang kemudian mewariskan usaha tersebut kepada generasi berikutnya.
Pada awal kemunculannya, borondong belum diproduksi sebagai usaha dagang. Ambu Enit hanya membuat borondong berdasarkan pesanan masyarakat untuk berbagai acara seperti pernikahan, pengajian, dan kegiatan lainnya. Dalam prosesnya, pelanggan biasanya menyediakan sendiri bahan baku berupa beras ketan dan gula, sedangkan Ambu Enit menerima upah dari hasil pembuatannya. Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1960 usaha borondong mulai berkembang menjadi usaha keluarga yang diteruskan oleh anak-anaknya.
Nama Borondong Majalaya ternyata bukan berasal dari tempat pembuatannya. Ia menjelaskan bahwa borondong diproduksi di wilayah Ibun, kemudian setiap dini hari dibawa ke Majalaya untuk dipasarkan. “Borondong ini sebenarnya dibuat di Ibun, tetapi karena setiap subuh dibawa ke Majalaya untuk dijual, akhirnya masyarakat mengenalnya sebagai Borondong Majalaya,” ujarnya.
Proses pembuatan borondong masih mempertahankan cara tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Bahan utama yang digunakan adalah beras ketan dan gula merah, meskipun sebagian pengrajin juga menggunakan gula pasir. Beras ketan disangrai menggunakan kuali tanah dan diaduk dengan ikatan merang padi hingga mengembang menyerupai popcorn. Setelah itu, beras ketan dicampur dengan gula cair dan dibentuk menjadi bulatan-bulatan kecil yang siap dipasarkan.
Di tengah perkembangan teknologi, para pengrajin tetap mempertahankan proses produksi secara manual. Menurutnya, pembuatan borondong tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin karena hasilnya berbeda dengan pengerjaan tangan. Selain itu, pengrajin juga menghadapi tantangan dalam pengelolaan limbah kulit beras ketan yang dihasilkan selama proses produksi. Namun, limbah tersebut dimanfaatkan kembali oleh pengrajin bunga dan pembuat batu bata sebagai bahan pendukung serta pupuk alami.
Keberadaan Borondong Majalaya tidak hanya menjadi simbol kekayaan kuliner tradisional Sunda, tetapi juga mencerminkan ketekunan masyarakat dalam menjaga warisan budaya leluhur. Di tengah arus modernisasi, para pengrajin terus berupaya mempertahankan cita rasa dan proses pembuatan tradisional agar borondong tetap dikenal serta dinikmati oleh generasi mendatang.
