
Angin senja berhembus di sela-sela pepohonan tua yang akarnya menjalar bak ular purba di atas permukaan makam. Di sinilah Syekh Maulana Muhammad Syafe’i beristirahat. Namun, di balik keunikan itu, tersimpan sebuah teka-teki yang hingga kini masih membuat ribuan peziarah mempertanyakan; Siapakah sebenarnya beliau dan mengapa masyarakat menjulukinya “Pangeran Raja Atas Angin”?
Di Kampung Cijenuk, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, makam Syekh Maulana Muhammad Syafe’i berdiri tanpa nisan dan tanpa jirat—hanya ditandai oleh sebatang pohon besar yang akar-akarnya menyembul ke permukaan, melilit dan merangkul tanah peristirahatannya. Ii Prawira Suganda, selaku juru kunci dan pengelola makam, sekaligus salah satu keturunan beliau, mulai membuka tabir misteri di balik gelar “Pangeran Raja Atas Angin”.
Ii Prawira memulai ceritanya dari asal-usul beliau. Menurut Ii Prawira, setidaknya ada dua riwayat utama mengenai asal-usul Syekh Maulana Muhammad Syafe’i. Versi pertama menyebutkan bahwa beliau adalah putra Sultan Kanoman Cirebon, sementara versi lain yang dipegang oleh sebagian sesepuh mengaitkannya dengan Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten. Meski berbeda, Ii Prawira menekankan satu kesamaan, yakni darah biru bangsawan memang mengalir deras dalam diri sang pangeran. Namun, entah karena amanat leluhur atau panggilan jiwa, ia memilih meninggalkan kemegahan istana demi menyebarkan ajaran Islam.
Ii Prawira melanjutkan penuturannya bahwa setelah keluar dari lingkungan keraton, sang pangeran disebutkan pernah singgah di Parangkusumo dan Banten, sebelum akhirnya tiba dan menetap di Cijenuk. Ia menjelaskan, di tempat inilah dakwah dilakukan dengan cara paling sederhana sekaligus paling berat, yaitu dari rumah ke rumah. Menurutnya, sang pangeran tidak mendirikan pesantren ataupun padepokan. Cara yang beliau pilih menyentuh hati rakyat dengan damai tanpa kekerasan, di tengah masyarakat yang kala itu masih kuat dipengaruhi oleh tokoh-tokoh Hindu.
Puncak dari penuturan Ii Prawira adalah soal karomah yang melahirkan julukan tersebut. Ia mengisahkan warisan lisan turun-temurun yang menyebutkan bahwa ketika azan Zuhur berkumandang, sang pangeran dapat terlihat di Cijenuk, Garut, Pangalengan, dan Cianjur secara bersamaan. Keempat tempat itu jaraknya memakan waktu berhari-hari jika ditempuh dengan jalan kaki, namun beliau hadir di semua tempat pada saat yang hampir bersamaan. Ii Prawira menuturkan, masyarakat Sunda yang kental dengan budaya mistis lantas menjulukinya “Ki Atas Angin”—sebuah sebutan yang lahir dari keyakinan bahwa tubuh kasarnya mampu bergerak secepat angin, menembus batas ruang dan waktu. Ia menegaskan, kemampuan itu bukanlah sihir melainkan karomah.
Sepeninggalnya, gelar itu pun dihormati menjadi “Pangeran Raja Atas Angin,” menggabungkan gelar kebangsawanan dengan keistimewaan spiritualnya. Pangeran melekat pada darah kebangsawanan, Raja pada kepemimpinan spiritualnya, dan Atas Angin pada karomah yang melampaui logika—hadir di banyak tempat, menjangkau banyak hati. Ia bukan penguasa yang terikat istana, melainkan penguasa yang bergerak bebas seperti angin, menyapa siapa pun yang merindukan cahaya Islam.
