
Pohon kawung (atau pohon aren) bukanlah tumbuhan asing di Tatar Sunda. Di dataran rendah maupun tinggi, tanaman ini kerap tumbuh liar di lereng bukit hingga pekarangan rumah. Sekilas tampak sepele. Namun, siapa sangka tumbuhan setengah liar ini justru menjadi awal misteri mencekam yang menghantui penduduk kampung.
Tepatnya di dataran tinggi Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yaitu Kampung Cikancung Girang. Di sana, desau angin di antara pelepah pohon kawung seakan membawa bisikan mistis.
“Keueung atuh sadesa-desa pas poe harita kajadianmah, ngagemparkeun pisan eweh nuwani kaluar peuting,” (Mencekam rasanya seisi desa hari kejadian itu, sangat menggemparkan sampai tidak ada yang berani keluar malam), ucap Roni (nama samaran), seorang sesepuh Kampung Cikancung.
Ketakutan warga malam itu bermula dari penemuan sesosok mayat perempuan yang mulai membusuk, tepat di atas pohon kawung. Warga kemudian mengenali jasad tersebut sebagai Euis, penduduk dari kampung tetangga. Cerita mistis pun menggelinding dari mulut ke mulut.
“Baheula teh, Kampung Cikancung masih keneh leuweung, aya maung. Tah Si Euis lumpat ka leuweung heug di udag maung. Nyumputna tangkal kawung neupi kaleleus-leleusna hente bisa turun,” (Dulu, Kampung Cikancung masih berupa hutan, ada harimau. Dia bersembunyi di pohon kawung sampai lemas dan tidak bisa turun), lanjut Roni menceritakan kembali legenda kelam tersebut.
Bertahun-tahun silam, Kampung Cikancung Girang disebut masih dikelilingi hutan lebat. Pepohonan tumbuh rapat di sepanjang lereng, menyisakan jalan setapak yang lengang ketika malam mulai turun. Keberadaan maung atau harimau pada masa itu bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan bagian dari cerita yang dipercaya pernah hidup berdampingan dengan warga. Kini, suasana itu perlahan berubah. Rumah-rumah mulai berdiri, jalanan semakin ramai dilalui kendaraan, dan sebagian wilayah yang dahulu berupa semak serta kebun telah berganti menjadi permukiman.
Di tengah perubahan itu, pohon kawung atau aren sejatinya bukan tumbuhan asing bagi masyarakat Sunda. Hampir seluruh bagiannya memiliki manfaat. Niranya dapat diolah menjadi gula aren, ijuknya digunakan sebagai bahan sapu atau atap tradisional, sementara batang dan daunnya kerap dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Namun di Kampung Cikancung Girang, satu pohon kawung pernah memiliki makna berbeda. Bagi sebagian warga, pohon itu bukan hanya tumbuhan biasa, melainkan penanda dari sebuah kisah yang sulit dilupakan.
Kisah tentang diterkam harimau di masa lalu itu memang masih menyisakan tanda tanya. Meski demikian, kisah tentang Euis rupanya tidak berhenti pada satu versi. Di tengah cerita turun-temurun mengenai Euis yang disebut dikejar harimau, muncul catatan lain yang mencoba merekam detik-detik hilangnya perempuan tersebut. Sebuah tulisan dari media lokal Rumah Baca berjudul Euis Kawung menghadirkan gambaran yang lebih sunyi sekaligus ganjil mengenai peristiwa itu:
“Palebah Cikancung ka sorenakeun. Tatangkalan beuki gesek. Tangkal kawung nu di tengah kebon bet ngagupay. Euis eureun. Sukuna nuturkeun panggupay. Dadana ratug tutunggulan. Ras ka orok jeung budakna nu dipihapekeun ka lanceukna. Di masjid sora adan magrib ganghiap. Euis jongjon. Ceuli jeung hatena beuki poek. Saminggu ti harita, Euis kabejakeun leungit,” (Sore mulai menyelimuti wilayah Cikancung. Pohon aren yang berada di tengah kebun tiba-tiba melambai-lambai. Euis terhenti. Kakinya melangkah mengikuti lambaian tersebut. Dadanya berdebar-debar hebat. Dia teringat pada bayi dan anaknya yang dititipkan kepada sang kakak. Di masjid, suara azan magrib berkumandang sayup-sayup. Euis terlena dalam lamunan. Telinga dan hatinya semakin gelap. Seminggu sejak kejadian itu, Euis dikabarkan hilang).
Meski peristiwa itu telah berlalu puluhan tahun, cerita tentang Euis rupanya belum benar-benar hilang dari ingatan warga. Generasi muda di kampung masih kerap mendengarnya, meski dengan tanggapan yang berbeda-beda. Sebagian menganggapnya sekadar legenda lama yang diwariskan orang tua untuk menakut-nakuti anak-anak agar tidak keluar malam. Namun sebagian lain memilih tetap menghormati cerita tersebut sebagai bagian dari sejarah kampung.
“Denger cerita itu mah pernah, dari orang tua juga suka dibahas kalau lagi ngobrol senggang. Percaya enggak percayanya sih balik lagi, tapi tetap agak merinding kalau lewat sana malam-malam,” ujar Risa salah seorang warga muda yang tinggal tidak jauh dari lokasi tempat pohon kawung dahulu berdiri.
Meski pohon kawung itu telah lama ditebang, cerita mengenai Euis nyatanya belum ikut hilang. Hingga kini, kisah tersebut masih sesekali muncul dalam obrolan warga, terutama ketika malam mulai turun dan jalanan kampung tampak lengang. Minimnya penerangan di beberapa titik jalan bahkan kerap memicu kendaraan roda dua maupun roda empat tergelincir masuk ke area persawahan. Dalam situasi demikian, sebagian warga masih mengaitkannya dengan cerita lama tentang pohon kawung, sementara sebagian lainnya menganggapnya semata karena kondisi jalan yang gelap dan licin.
Kini, pohon kawung tempat Euis ditemukan hanya tersisa dalam ingatan yang menolak punah. Tempatnya berpijak dulu pun kini berganti menjadi petak tanah kering. Waktu boleh berlalu dan hutan belantara telah berubah menjadi pemukiman. Namun bagi warga Cikancung Girang, setiap kali angin malam berdesau melewati pelepah-pelepah aren yang tersisa di sudut kampung, seolah masih menyimpan kisah tentang Euis dan masa lalu kelam kampung itu.
