
Pertemuan aliran tujuh sungai di Desa Cibuluh, Kecamatan Tanjungsiang, Subang, kembali semarak lewat gelaran Festival Tujuh Sungai. Bukan sekadar pesta budaya, festival tahunan ini menjadi panggung bagi warga lokal untuk memamerkan pesona alamnya, merawat tradisi leluhur, sekaligus mempertegas identitas Cibuluh sebagai desa wisata yang hidup dari akar budayanya.
Festival yang digelar setiap bulan Juli tersebut terus menunjukkan perkembangan yang positif dari tahun ke tahun. Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2015, kegiatan ini berlangsung secara konsisten hingga memasuki penyelenggaraan ke-10 pada Juli 2025. Bahkan, Festival Tujuh Sungai pernah masuk dalam jajaran Kharisma Event Nusantara (KEN) sebagai salah satu dari 100 event unggulan nasional yang didukung Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Sekretaris Desa Cibuluh, Cahyan, menyampaikan bahwa Festival Tujuh Sungai merupakan agenda tahunan yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat. Dalam wawancaranya, ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut selalu dinantikan setiap tahun. “Di sini ada festival tahunan, yaitu Festival Tujuh Sungai yang dilaksanakan setiap bulan Juli,” ujarnya saat menerima kunjungan mahasiswa yang melakukan observasi di Desa Cibuluh.
Di balik penyelenggaraannya yang baru dimulai pada 2015, festival ini sesungguhnya berakar pada tradisi masyarakat yang telah hidup selama ratusan tahun. Desa Cibuluh dikenal sebagai wilayah tempat bertemunya tujuh aliran sungai, yakni Sungai Cipunagara, Cileat, Cikembang, Cikaruncang, Citeureup, Cilandesan, dan Cinyaro. Kondisi geografis tersebut membentuk kehidupan masyarakat yang sangat dekat dengan sungai dan melahirkan berbagai nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi seperti ritual ungkapan syukur terhadap sungai, kebiasaan menjaga mata air, hingga cara menangkap ikan secara tradisional melalui kegiatan ngagogo menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Sunda yang masih dipertahankan hingga kini. Nilai-nilai tersebut kemudian dikemas dalam bentuk Festival Tujuh Sungai sebagai upaya melestarikan budaya sekaligus mengenalkan kekayaan alam Desa Cibuluh kepada masyarakat yang lebih luas.
Cahyan juga menjelaskan bahwa Desa Cibuluh dikenal sebagai desa wisata dengan potensi alam yang menarik perhatian banyak orang. Menurutnya, informasi mengenai destinasi wisata di Desa Cibuluh dapat dengan mudah ditemukan melalui berbagai media digital. “Kalau dilihat di YouTube atau Facebook, profil wisata Desa Cibuluh banyak dan memang benar adanya. Jadi masyarakat bisa melihat langsung bahwa potensi wisata di sini memang ada,” katanya.
Melalui Festival Tujuh Sungai, masyarakat Desa Cibuluh berharap kekayaan alam dan budaya yang diwariskan oleh para leluhur dapat terus lestari sekaligus menjadi daya tarik wisata yang mampu mengangkat nama desa di tingkat regional maupun nasional. Dengan semangat pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata, festival ini diharapkan terus menjadi ikon yang merepresentasikan pesona khas Desa Cibuluh.
