
Masjid Jami Kalipasir menjadi salah satu peninggalan bersejarah penting di Kota Tangerang. Masjid ini dikenal sebagai salah satu masjid tertua yang menjadi simbol perkembangan Islam di wilayah Tangerang. Keberadaannya hingga saat ini menunjukkan kuatnya hubungan antara masyarakat dengan warisan sejarah yang telah berumur ratusan tahun.
Menurut Cecep selaku pemandu sejarah Masjid Jami Kalipasir, masjid ini pertama kali didirikan pada tahun 1416 oleh Ki Tengger Jati, seorang tokoh yang berperan penting dalam penyebaran Islam di kawasan tersebut. Berdirinya masjid ini menandai awal perkembangan pusat dakwah dan kehidupan keagamaan masyarakat di sekitar Kalipasir.
“Awal berdirinya Masjid Jami Kalipasir pada tahun 1416, didirikan oleh Ki Tengger Jati,” tutur Bapak Cecep saat menjelaskan sejarah awal masjid.
Seiring berjalannya waktu, bangunan masjid mengalami beberapa renovasi besar. Renovasi pertama dilakukan pada tahun 1615 oleh Tumenggung Pamitwijaya, yang menjadi salah satu tokoh penting dalam pemeliharaan bangunan masjid pada masa itu. Renovasi berikutnya berlangsung pada tahun 1816, ketika bagian atap yang semula menggunakan kayu sirap diganti dengan genting agar lebih kuat dan tahan lama terhadap perubahan cuaca.
Tidak berhenti di situ, perkembangan fisik masjid terus berlanjut. Pada tahun 1904 dibangun sebuah menara yang semakin memperkuat identitas arsitektur Masjid Jami Kalipasir. Menara tersebut hingga kini menjadi salah satu ciri khas utama yang mudah dikenali oleh masyarakat.
Menurut Bapak Cecep, renovasi besar yang paling diingat dalam sejarah masjid memang berkaitan dengan penggantian atap dan pembangunan menara. Meski telah mengalami sejumlah perubahan fisik, struktur utama dan nilai sejarah masjid tetap dipertahankan.
Selain bangunan utamanya, Masjid Jami Kalipasir juga menyimpan berbagai artefak bersejarah yang memperkuat nilai historisnya. Beberapa peninggalan yang masih ada hingga sekarang antara lain empat tiang utama, mimbar, mihrab, baluarti, serta kawasan makam tua dengan nisan kuno. Artefak-artefak tersebut menjadi bukti material yang menunjukkan usia tua masjid sekaligus kesinambungan sejarahnya.
Bapak Cecep juga menjelaskan bahwa sumber tertulis mengenai sejarah masjid masih cukup terbatas. Hingga kini, sumber primer yang tersedia berupa dokumen resmi seperti Surat Keputusan Pemerintah Kota Tangerang yang belum sepenuhnya diserahkan, serta enam bendel Peraturan Wali Kota yang masih beliau simpan sebagai bagian dari dokumentasi sejarah.
Keberadaan Masjid Jami Kalipasir hari ini bukan hanya menjadi simbol religius, tetapi juga simbol ketahanan sejarah. Di tengah pesatnya perkembangan kota dan modernisasi, masjid ini tetap berdiri sebagai pengingat akan akar sejarah Islam di Tangerang. Besar harapan agar warisan budaya dan sejarah ini terus dijaga, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi mendatang agar jejak masa lalu tidak hilang ditelan zaman.
