
Oleh : Dandy Maulidan
Suara azan berkumandang dari menara Masjid Besar Rancaekek, berpadu dengan riuh kendaraan yang melintas di Jalan Raya Rancaekek–Majalaya. Di serambi masjid, beberapa jamaah berbincang selepas salat, sementara anak-anak bergegas menuju tempat mengaji. Sulit membayangkan bahwa lebih dari dua abad lalu, lokasi yang kini dikelilingi pertokoan dan permukiman itu pernah berada di tengah hamparan ratusan balong ikan. Di tengah pesatnya perkembangan Rancaekek sebagai kawasan industri, masjid ini tetap berdiri kokoh sebagai penanda perjalanan panjang Islam dan kehidupan masyarakat setempat.
“Bapak saya salat di sini, kakek saya juga pernah salat di sini,” tutur seorang jamaah yang telah puluhan tahun beribadah di Masjid Besar Rancaekek. Kalimat sederhana itu menggambarkan betapa erat hubungan masyarakat dengan masjid ini. Bagi warga, masjid bukan sekadar tempat menunaikan salat, tetapi juga ruang belajar mengaji, mengikuti pengajian, bermusyawarah, hingga mempererat silaturahmi. Dari generasi ke generasi, Masjid Besar Rancaekek telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Rancaekek.
Menurut pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), Masjid Besar Rancaekek berdiri di atas tanah wakaf milik seorang dermawan bernama Hasan dan diperkirakan telah ada sejak sekitar tahun 1815. Bangunan pertamanya terbuat dari bambu dan berdiri di kawasan yang dikelilingi ratusan balong ikan. “Kata para sepuh, dulu masjid ini berdiri megah di antara ratusan balong,” ujar salah seorang pengurus. Seiring waktu, sawah, kolam, dan kebun berganti menjadi jalan raya, permukiman, hingga kawasan industri, tetapi masjid tetap bertahan di lokasi yang sama sebagai saksi perubahan zaman.
Perjalanan masjid tidak selalu berjalan mulus. Pada tahun 1910, bangunan bambu diganti dengan tembok agar lebih kokoh. Ujian yang lebih berat datang saat Revolusi Kemerdekaan pada tahun 1949, ketika serangan bom Belanda merusak sebagian bangunan masjid. Tragedi itu juga merenggut nyawa sebelas pejuang kemerdekaan yang sedang beristirahat di kompleks masjid. Hingga kini, makam mereka masih berada tidak jauh dari halaman masjid sebagai pengingat bahwa rumah ibadah ini pernah menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Tantangan berikutnya datang dari bencana banjir yang kerap melanda kawasan Rancaekek. Pada tahun 1986, masjid kembali direnovasi dengan meninggikan lantai sekitar 60 sentimeter sekaligus memperluas bangunan agar lebih aman dari genangan dan mampu menampung jamaah yang terus bertambah. Meski telah beberapa kali mengalami perubahan fisik, para pengurus tetap berupaya mempertahankan nilai sejarah dan fungsi masjid sebagai pusat pembinaan umat.
Kini, Masjid Besar Rancaekek tampil dengan bangunan yang lebih megah dibandingkan bentuk awalnya. Dinding bambu telah berganti tembok yang kokoh, sementara kawasan di sekitarnya berkembang menjadi pusat aktivitas masyarakat. Namun, satu hal yang tidak berubah adalah perannya sebagai tempat warga berkumpul, beribadah, menimba ilmu agama, serta mewariskan nilai-nilai kebersamaan kepada generasi berikutnya.
Masjid Besar Rancaekek membuktikan bahwa sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip atau museum, tetapi juga hidup di tengah masyarakat. Selama azan masih berkumandang dari menaranya dan saf-saf salat terus dipenuhi jamaah, selama itu pula kisah masjid yang telah berdiri lebih dari dua abad ini akan terus hidup sebagai simbol keteguhan, kebersamaan, dan perjalanan panjang perkembangan Islam di Rancaekek.
