Sebelum Pabrik Berdiri, Ayat Suci Lebih Dulu Menggema di Bumi Karawang

Gemuruh mesin pabrik dan hiruk-pikuk kendaraan menjadi nafas sehari-hari Kota Karawang, lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar lirih dari sudut alun-alun Karawang. Langgar kecil yang berevormasi menjadi Masjid Agung menyimpan sejarah yang mendalam. Sulit dibayangkan bahwa dari tempat inilah benih awal peradaban Islam menyebar ke penjuru  Tatar  Sunda.

Dari halaman masjid, suara kendaraan masih terdengar jelas. Namun ketika melangkah melewati pintu utama, suasana berubah menjadi tenang. Beberapa jamaah duduk membaca Al-Qur’an di serambi, sementara kubah masjid menjulang menjadi saksi perjalanan Islam di Karawang. Masjd Syekh Quro atau Masjid Agung Karawang terletak  di kawasan alun-alun Kota Karawang menjadi sentral peribadahan bagi masyarakat sekitar.

Penamaan masjid diambil dari nama Syekh Hasanudin, seorang ulama dari Champa yang menyebarkan Islam di Nusantara. Beliau mengenalkan Islam melalui seni bacaan Qur’an yang merdu, disebut dengan Qiroatul Qur’an. Menurut sumber sejarah, kemampuan membaca Al-Qur’am Syekh Hassanudin dengan nada-nada quro’at membuat Masyarakat kemudian  mengenalnya dengan Syekh Quro.

Dari wilayah ini kemudian Syekh Quro menyebarkan Islam dan mendirikan sebuah langar yang berfungsi sebagai pusat pembelajaran dan peribadahan. Kini, Masjid Syekh Quro tidak hanya menjadi tempat pembelajaran dan peribadahan  semata, tetapi juga menjadi destinasi wisata religi yang banyak dikunjungi dari wisatawan sekitar maupun luar kota. 

Dari langar itu pula lahir murid-murid yang kelak berperan penting dalam sejarah Islam di Tatar Sunda. Salah satunya adalah Nyai Subang Larang yang kelak menikah dengan Raden Pamanah Rasa, seorang raja Hindu dari Padjajaran yang bergelar Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi, dan melahirkan pemimpin-pemimpin besar dalam mensyiarkan Islam di Pasundan.

“Di tempat inilah, di Masjid Syekh Quro ini Prabu Siliwangi meminang Nyai Subang Larang dengan memantapkan hatinya menjadi seorang mualaf,” ujar sesepuh Masjid Syekh Quro.

Keagungan tersebut kemudian diabadikan menjadi sebuah Tugu Santri yang menjadi symbol perjuangan Syekh Quro dalam menyebarkan Islam melalui pendidikan dan lantunan ayat suci Al-Qur’an. Tugu tersebut diresmikan langsung oleh Bupati Karawang, Dr. Hj. Cellica Nurachadina pada tahun 2018, dengan desain reflika Al-Qur’an yang diletakan di tengahnya melambangkan baca tulis Al-Qur’an pertama kali di ajarkan di Pesantren Syekh Quro.

 Kemudian Al-Qur’an tersebut dikelilingi oleh tasbih yang menjuntai pada empat kujang yang berada di setiap sudut, melambangkan bentang rangeui saketi yang disebut-sebut sebagai salah satu mas kawin pernikahan Nyimas Subang Larang dengan Prabu Siliwangi, dan kujang sendiri melambangkan identitas senjata pembesar Padjajaran yang memiliki andil dalam kelanjutan Pondok Pesantren Syekh Quro pada masa itu.

Kini, Masjid Syekh Quro tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang yang menyimpan memori perjalanan Islam di Karawang. Keberadaannya menjadi saksi bahwa perkembangan sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh kemajuan ekonomi, tetapi juga oleh nilai-nilai keagamaan, pendidikan, dan budaya yang telah mengakar sejak berabad-abad lalu.  

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!