Lewat Tangan Komunitas Lokal, Karinding Sunda Kembali Diminati Generasi Muda

Karinding merupakan salah satu alat musik tradisional khas Sunda yang memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi. Alat musik yang terbuat dari bambu dulunya sering dimainkan oleh para petani sebagai hiburan sekaligus dipercaya dapat mengusir hama sawah. Pada saat ini, karinding bukan hanya menjadi simbol budaya sunda, tetapi sekarang seni musik karinding sudah mulai di kolaborasi dengan musik modern.

 

Dalam derasnya arus musik modern, seni musik karinding tetap bertahan sebagai warisan budaya masyarakat Sunda. Suara khas dan unik yang keluar dari sepotong bambu yang dimodifikasi yang masih bertahan di tanah sunda. Kini keberadaannya terus dilestarikan oleh berbagai komunitas seni sebagai menjaga identitas budaya di tengah perkembangan zaman. 

 

Seni musik karinding mendapat perhatian masyarakat melalui festival budaya. Alat musik sunda tersebut mulai banyak dipelajari oleh kalangan muda sebagai bentuk pelestarian warisan leluhur. Kalangan komunitas karinding juga sering mengadakan pelatihan dan pertunjukan untuk memperkenalkan seni musik karinding khas sunda kepada khalayak banyak.

 

Suara getaran bambu bersahut-sahut di halaman saung Karinding Awi Cakra, alat musik tradisional khas Sunda, Karinding, kini kembali menggeliat dan menjadi daya tarik utama di bidang seni musik tradisional. 

 

Alat musik yang terbuat dari pelepah enau atau bambu ini sebelumnya sempat dianggap kuno dan ditinggalkan oleh generasi muda. Namun, berkat inovasi dari sejumlah komunitas seni lokal, eksistensi Karinding berhasil diangkat kembali menjadi karya seni pertunjukan yang bernilai tinggi. Dalam derasnya arus musik modern, seni musik karinding tetap bertahan sebagai warisan budaya masyarakat Sunda. Suara khas dan unik yang keluar dari sepotong bambu yang dimodifikasi yang masih bertahan di tanah sunda. Kini keberadaannya terus dilestarikan oleh berbagai komunitas seni sebagai menjaga identitas budaya di tengah perkembangan zaman.

 

Dalam wawancara eksklusif di saung karinding awi cakra ,Garut , Mulyono (50 tahun) menceritakan awal mula ketertarikannya terhadap instrumen yang terbuat dari bambu  tersebut. Beliau sebenarnya bukan asli orang keturunan sunda tetapi beliau tumbuh dan besar di tanah sunda seiring waktu beliau tertarik terhadap budaya sunda khususnya dalam bidang seni dan kerabat yang juga yang menguasai bidang seni musik sunda akhirnya belau terjun kedalam bidang seni sunda, dan pada akhirnya mendirikan grup seni musik yang bernama karinding awi cakra. Ia menjelaskan awal mendirikan Grup Karinding Awi Cakra itu “pas saya jeung para sahabat saya anu sok maen karinding ulin ka leuweung, kapikiran ngajieun grup musik karinding, saya jeng para sahabat teh akhirna ngadiriken lah grup kainding awi cakra”. 

 

Grup musik ini didirikan pada 2017. Tujuan Mulyono dan para sahabatnya mendirikan grup karinding awi cakra ini untuk melestarikan alat musik karinding yang kalah saing dengan musik-musik modern yang lebih hits di kalangan anak muda. Beliau dan para kawan-kawannya sering menggelar latihan ke para anak muda di kampungnya, bahkan grup karinding awi cakra ini pernah diundang oleh perguruan tinggi Universitas Indonesia, dan berbagai festival seni musik tradisional lainnya.

 

Transformasi karinding dari alat tradisional menjadi instrumen musik yang bernilai seni tinggi tidak terjadi dalam semalam. Menurutnya, butuh konsistensi untuk mengedukasi anak muda agar tidak asing dengan alat musik ini. Karena teknologi yang semakin maju dapat mengalahkan eksistensi seni musik karinding dikalangan anak muda khususnya di Garut. Kini, karinding tidak lagi dipandang sebelah mata, banyak anak muda yang sering memainkan alat musik ini di berbagai festival seni musik tradisional, bahkan karinding kini sering dipadukan dengan seni musik modern, sehingga menghasilkan seni musik yang baru.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!