Makam Syekh Haji Alaludin: Menjaga Warisan Karomah di Kawung Luwuk

 

      Sudah lebih dari dua dekade, Engkus (45) mengemban amanah sebagai kuncen generasi kedua Makam Keramat Syeh Haji Alaludin di Kawung Luwuk, Desa Mandala Haji, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung. Di sebuah bukit setinggi 700 meter di atas permukaan laut, dikelilingi pemandangan pegunungan dan udara yang sejuk, pria yang akrab disapa Engkus ini setiap pagi sudah berada di situs  menyapu, membersihkan, dan menyambut para peziarah yang datang dari berbagai penjuru. Bagi dia, ini bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah panggilan leluhur.

     Situs Makam Keramat Syeh H. Alaludin bukan sembarang tempat. Bagi kalangan peziarah di Tatar Sunda, makam ini dipandang sebagai salah satu lokasi “wajib diziarahi” dalam rute ziarah spiritual — sejajar dengan Pamijahan dan Mahmud. Kompleks makam yang terletak di kampung Ranca RT. 052 RW. 016 itu diyakini sebagai tempat persinggahan para wali pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17, bersamaan dengan masuknya pengaruh Kerajaan Mataram ke wilayah Tatar Sunda. 

    Syekh H. Alaludin sendiri, menurut catatan sejarah yang tersimpan di situs itu, berasal dari Baghdad. Beliau lahir pada 1 Muharam dan wafat pada 9 Rajab 1009 H. Ditugaskan untuk menyebarkan Islam di Pulau Jawa, perjalanan dakwahnya dimulai dari Mataram, berlanjut ke Cidamar, Cirebon, kemudian hijrah ke Banten selama delapan tahun, hingga akhirnya menetap dan wafat di kampung Ranca, Desa Mandala Haji. “Sejarahnya luas,” ujar Engkus. “Tapi intinya, situs ini setara dengan Pamijahan dan Mahmud  penuh karomah dan keberkahan.

       Engkus meneruskan tongkat estafet dari kuncen pertama, Abdul Gopur Nasihin, sejak tahun 1969. Sejak menjadi kuncen, ia berguru ke berbagai daerah di Pulau Jawa  dari KH. Mama Buya Armin di Banten, KH. Mama Pahrudin di Pasir Saguling Garut, hingga KH. Mama Abu di Pamijahan. Perjalanan panjang itulah yang membawanya pada keyakinan bahwa situs Kawung Luwuk layak untuk dirawat dan diangkat kembali. “Saya mulai berjalan ke Madura, ke Pamijahan, ke Banten, ke Lampung sejak tahun 1980-an. Baru pada 2014 saya tiba di sini dan menemukan makam ini sudah lama terbengkalai, padahal karamahnya nyata,” tuturnya.

 

     Hari-hari Engkus dipenuhi rutinitas perawatan situs. Setiap pagi ia sudah berangkat, membersihkan area makam, menerima tamu, dan memandu para peziarah. Setiap Jumat pagi menjadi waktu bersih-bersih menyeluruh. Seminggu sekali tamu resmi diterima, dan sebulan sekali ada pertemuan koordinasi dengan pengurus. Biaya pemeliharaan situs selama ini banyak mengandalkan swadaya para pengurus, sebagian dari hasil menanam sayuran di area sekitar makam. “Harapan saya, ke depannya ada bantuan pemerintah  minimal pompa air untuk wudhu dan jalan yang tidak berlumpur saat hujan,” ujarnya.

  Para peziarah yang datang memiliki beragam tujuan. Ada yang berzikir, berdoa, bermeditasi, hingga melakukan riadah (tirakat). Engkus menegaskan bahwa semua kegiatan di situs ini berpusat pada doa. “Jiarah di makam bukan musyrik. Semua kegiatan yang ada dalam jiarah adalah berbagai macam doa yang dibacakan. Tujuannya adalah kehidmatan dalam berdoa, agar merasa lebih dekat dengan Sang Pemilik Alam, Allah SWT,” tegasnya. Situs ini kini telah diakui sebagai cagar budaya oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bandung, dengan dukungan dari Camat Pacet, pengurus masjid, dan masyarakat setempat. 

     Di balik keseharian yang sederhana itu,  Engkus menyimpan harapan besar. Ia ingin situs ini kelak bisa menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar, seperti halnya situs-situs ziarah besar lainnya. Namun yang lebih ia khawatirkan adalah soal regenerasi. “Ahli-ahli juru kunci ini hampir punah. Di zaman sekarang, anak-anak sudah berbeda pandangannya,” ujarnya prihatin. Ia pun menitipkan pesan kepada generasi muda untuk mau menjaga, mengamalkan, dan melestarikan tradisi ini. Tanggung jawab yang tidak ringan — namun baginya, sudah menjadi bagian dari hidup. Seperti makam tua yang ia jaga di bukit itu: diam, namun tak pernah benar-benar sepi.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!