Masjid Mungsolkanas: Ruang Spiritual yang Bertahan di Tengah Bising Modernisasi Cihampelas

“Mangga Urang Ngaos Sholawat ka Nabi Muhammad SAW.” Dari kalimat ajakan berbahasa Sunda itulah nama Mungsolkanas lahir sebagai sebuah akronim. Dibangun tahun 1869 oleh KH Abdurrohim. Masjid tua di balik gang sempit Cihampelas ini sukses melintasi zaman, menjaga tradisi spiritualitas yang tak luntur oleh modernisasi.

Lantas, siapa sebenarnya sosok pejuang di balik berdirinya masjid yang berdiri melintasi zaman ini? Ia adalah KH Abdurrohim, atau yang akrab disapa dengan Mama Aden, ulama yang menggerakkan spiritualitas warga sekitar di tengah kolonialisme. Menelusuri sejarah masjid ini juga akan menjawab mengapa bangunan yang tersembunyi di pemukiman padat Cihampelas ini kaya akan nilai sejarahnya, dimulai dari keunikan penamaan dengan bahasa lokal hingga kepemilikan Al-Qur’an tulis tangan kuno.

Selain merawat peninggalan fisik, denyut nadi Masjid Mungsolkanas juga terus berdetak melalui kelestarian intelektual. Di bawah bimbingan para penerus Mama Aden yang memastikan bahwa transmisi keilmuan Islam tradisional yang diarsiteki sejak abad ke-19 ini tidak terputus oleh laju zaman.

Secara administratif, tempat ibadah ini dibangun di jalan Cihampelas, tepatnya di dalam Gang Mama Winata, Kota Bandung. Berbeda dengan rumah ibadah pada umumnya yang menggunakan penamaan bahasa Arab, masjid ini menggunakan akronim bahasa Sunda. “Mungsolkanas itu artinya mangga urang ngaos sholawat ka kanjeng Nabi Muhammad SAW, artinya itu ajakan untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad,” ujar Didin, marbot yang merawat masjid mungsolkanas.

Masjid Mungsolkanas telah mengalami beberapa kali renovasi. Di lantai dua, tersimpan sebuah Al-Qur’an kuno hasil tulisan tangan langsung. Di samping peninggalan fisik, terdapat pula cerita lisan yang melingkupi sejarah masjid ini. Konon, Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, sempat singgah dan beribadah di sini semasa beliau berkuliah di ITB. Sekretaris DKM Masjid Mungsolkanas, Utep, menuturkan bahwa cerita tersebut memang hanya bersumber dari penuturan yang didengar secara lisan, tanpa adanya bukti fisik atau catatan tertulis yang memperjelas kebenarannya.

Selain itu nilai-nilai spiritualitas yang diwariskan sejak beberapa abad lalu itu tidak menguap menjadi pajangan belaka. Hingga saat ini, aktivitas keagamaan di dalam gang Cihampelas ini masih terjaga dengan sangat hidup. Begitupun ketika memasuki bulan suci Ramadhan, Mungsolkanas menjadi tempat kegiatan program pesantren kilat bagi anak-anak, lantunan tadarus yang menggema, hingga tradisi gotong royong menyediakan hidangan takjil bagi pengunjungnya.

Pada akhirnya, Masjid Mungsolkanas bukan sekadar simbol bangunan tua yang bertahan lama, melalui akronim sunda yang diembannya ini membuktikan bahwa masjid ini masih tetap berjalan di tengah bising dan modernnya kawasan urban Cihampelas. Mungsolkanas tetap setia sebagai tempat spiritual yang mengajak manusia untuk rehat sejenan dan melantunkan sholawat.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!