Menelusuri Sejarah Kue Kijing sebagai Warisan Kuliner Ciamis

“Setiap Lebaran pasti banyak yang mencari Kue Kijing,” ujar Ibu Wiwi sambil mengeluarkan loyang dari dalam oven. Aroma manis yang memenuhi dapurnya menjadi pertanda bahwa puluhan Kue Kijing telah matang dan siap disusun satu per satu. Di balik kesederhanaan dapur itu, tersimpan sebuah kisah tentang warisan kuliner yang terus bertahan di tengah derasnya perubahan zaman.

Di Kabupaten Ciamis, Kue Kijing bukan sekadar kudapan manis yang disajikan saat Hari Raya Idulfitri. Bagi sebagian masyarakat, kehadirannya menjadi bagian dari kenangan masa kecil, tradisi keluarga, sekaligus identitas kuliner daerah yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Meski demikian, jejak sejarah Kue Kijing masih jarang ditemukan dalam sumber-sumber tertulis. Pengetahuan mengenai kuliner ini lebih banyak hidup melalui cerita para pembuatnya dan tradisi yang terus dipertahankan hingga sekarang.

Berdasarkan penuturan Ibu Wiwi, Kue Kijing mulai dikenal masyarakat Ciamis sekitar dekade 1980-an. Nama “Kijing” diambil dari bentuk kuenya yang menyerupai kerang air tawar atau kijing. Bentuk tersebut bukan dibuat secara manual, melainkan dicetak menggunakan lempengan besi khusus yang menyerupai cangkang kerang air tawar. Cetakan inilah yang kemudian menjadi ciri khas sekaligus identitas visual Kue Kijing hingga sekarang.

Salah satu sosok yang masih menjaga keberlangsungan kuliner tersebut adalah Ibu Wiwi. Perempuan berusia 56 tahun itu mulai membuat Kue Kijing sejak awal 1990-an ketika usianya baru menginjak sekitar 20 tahun. Selama lebih dari tiga dekade, ia tetap mempertahankan resep dan teknik pembuatan yang diwariskan secara turun-temurun. Baginya, membuat Kue Kijing bukan sekadar pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga bentuk tanggung jawab dalam menjaga warisan kuliner khas Ciamis agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.

Menjelang Hari Raya Idulfitri, aktivitas di rumah Ibu Wiwi menjadi jauh lebih sibuk dibandingkan hari-hari biasa. Pesanan datang silih berganti dari pelanggan yang telah mengenal cita rasa Kue Kijing buatannya selama bertahun-tahun.

“Banyak yang pesan dari jauh-jauh hari karena takut kehabisan. Biasanya mereka bilang kue ini mengingatkan pada suasana Lebaran waktu dulu,” tuturnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Kue Kijing tidak hanya memiliki nilai sebagai makanan tradisional, tetapi juga menyimpan nilai emosional bagi masyarakat. Rasa dan aromanya menjadi penghubung antara masa kini dengan kenangan masa lalu, ketika keluarga berkumpul dan berbagai hidangan khas Lebaran tersaji di ruang tamu.

Keistimewaan Kue Kijing juga terlihat dari proses pembuatannya yang masih mempertahankan cara tradisional. Bahan-bahan yang digunakan relatif sederhana, yakni telur, gula pasir, tepung terigu, dan vanili. Seluruh bahan dicampur hingga menjadi adonan yang lembut, kemudian dituangkan ke dalam cetakan besi berbentuk kijing. Setelah adonan tercetak dengan sempurna, kue dipanggang di dalam oven hingga matang dan berwarna kecokelatan.

Menurut Ibu Wiwi, setiap tahapan membutuhkan ketelitian. Takaran bahan harus seimbang agar menghasilkan tekstur yang renyah sekaligus ringan ketika disantap. Begitu pula dengan proses pemanggangan yang memerlukan pengaturan suhu secara cermat agar warna dan rasa Kue Kijing tetap konsisten. Kesabaran menjadi bagian penting dalam setiap proses, karena kualitas kue tidak hanya ditentukan oleh bahan, tetapi juga pengalaman pembuatnya.

Di tengah berkembangnya industri makanan modern, mempertahankan Kue Kijing bukanlah perkara mudah. Berbagai jenis camilan baru terus bermunculan dengan tampilan yang lebih beragam dan pemasaran yang lebih luas. Akibatnya, tidak sedikit generasi muda yang mulai asing dengan jajanan tradisional daerahnya sendiri. Padahal, di balik bentuknya yang sederhana, Kue Kijing menyimpan sejarah panjang tentang kehidupan masyarakat Ciamis dan tradisi yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Minimnya dokumentasi tertulis mengenai Kue Kijing menjadikan peran para pembuatnya semakin penting. Melalui tangan-tangan mereka, pengetahuan mengenai resep, teknik pembuatan, hingga makna budaya kuliner ini tetap diwariskan. Tradisi lisan yang hidup di tengah masyarakat menjadi sumber sejarah yang membantu menjelaskan perjalanan Kue Kijing sebagai bagian dari identitas kuliner Ciamis.

Lebih dari sekadar makanan, Kue Kijing merupakan warisan budaya yang merekam hubungan antara manusia, tradisi, dan ingatan kolektif masyarakat. Setiap adonan yang dipanggang di dalam oven tidak hanya menghasilkan kudapan bercita rasa manis, tetapi juga menjadi simbol keberlanjutan budaya lokal yang tetap bertahan di tengah perubahan zaman.

Selama masih ada orang-orang seperti Ibu Wiwi yang setia membuatnya, Kue Kijing akan terus hidup sebagai salah satu jejak sejarah kuliner Kabupaten Ciamis. Dari sebuah cetakan besi berbentuk kerang air tawar lahirlah bukan hanya kue yang renyah dan manis, tetapi juga cerita tentang ketekunan, pewarisan tradisi, serta identitas budaya yang patut dijaga. Di tengah derasnya arus modernisasi, Kue Kijing membuktikan bahwa warisan kuliner tidak hanya dikenang melalui rasa, melainkan juga melalui kisah yang terus diceritakan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!