
Lorong sempit di tengah pemukiman warga Sukapakir itu tampak sederhana. Namun di balik kesunyian gang sempit tersebut, tersimpan makam KH. Rd. Muhammad Alwi RA, ulama penyebar dakwah Islam yang memiliki hubungan keilmuan dengan Syeikh Nawawi Al-Bantani. Hingga kini, makam yang akrab disebut Makam Mama Eyang Sukapakir itu masih ramai diziarahi masyarakat dari berbagai daerah.
Kamis, 11 September 2025, langkah terbawa memasuki kawasan Sukapakir dan langsung disambut dengan suasana sepi setengah ramai khas gang di perkotaan. Di tengah padatnya hiruk pikuk perkotaan, Tempat ini menyimpan sebuah makam seorang ulama kharismatik yang mempunyai sanad ilmu langsung kepada Syekh Nawawi Al-Bantani. Tidak jauh jaraknya dari kota Bandung, makam Mama Eyang Sukapakir ini menjadi sangat mudah disambangi dan ditelusuri oleh masyarakat umum.
Makam Mama Eyang Sukapakir (KH. Rd. Muhammad Alwi RA) ini beralamat di Gg. H. Satibi, Jl. Jamika No. 22, RT 04/RW 06, Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Tidak jauh jaraknya dari kota Bandung, tempat ini cukup menyatu dengan pemukiman warga di dalam gang dan sangat mudah untuk diakses oleh masyarakat umum.
Menurut Bapak Fardi yang merupakan penjaga dan petugas kebersihan di wilayah makam tersebut, dulunya makam ini hanya dikelilingi oleh benteng batu-bata. Seiring berjalannya waktu makam ini mengalami renovasi terus-menerus yang diawali oleh anaknya sehingga menjadi bangunan mirip masjid atau rumah seperti pada gambar diatas. Renovasi diperkirakan rampung pada tahun 2006.
Nama “Sukapakir” diambil dari nama wilayah di sekitaran makam yang dulunya bernama Sukapakir yang merupakan salah satu tempat menyebarkan agama Islam, tapi sekarang sudah berganti nama menjadi nama-nama jalan seperti Jl. Pagarsih atau Jl. Jamika. Selain di wilayah ini, beliau juga menjadi penyebar Islam di Sumedang, Cibaduyut, Cigondewah dan lainnya. Dan merupakan guru dari beberapa ulama penyebar Islam ditanah Sunda lainnya.
Pada batu nisan tertulis bahwa beliau wafat pada tanggal 7 Agustus 1928 M atau 20 Safar 1347 H. Hingga saat ini makam ini masih sering dikunjungi oleh para peziarah kubur untuk sekedar mendoakan atau mengharap keberkahan dari sang ulama penyebar Islam di tatar sunda ini, setiap tahun selalu diadakan Haul untuk memperingati hari kelahirannya.
