MENGARSIP KELANA DAKWAH SYEKH FATTAH ROHMATULLOH: SANG PENYEBAR ISLAM DARI KESULTANAN BANTEN KE TANAH GARUT

GARUT  —  Pengembaraan spiritual Syekh Fatah Rohmatullah dari Kesultanan Banten ke pedalaman Garut merupakan babak penting dalam konstelasi Islamisasi di tanah pasundan. Meninggalkan kemapanan pusat kesultanan, ulama kelana ini memilih meretas jalan sunyi demi menyebarkan syiar islam di wilayah pedalaman. Mengarsip kembali rekam jejak dakwahnya bukan sekedar upaya merawat memori kolektif yang mulai usang, melainkan sebuah ikhtiar penting untuk mengungkap strategi kultural sang syekh dalam menanam jangkar iman yang kini menjadi fondasi religiusitas masyarakat Garut.   

 

Nama Syekh Fatah Rohmatulloh pada akhirnya menjelma sebagai jembatan spiritual dan historis yang menghubungkan kemegahan Kesultanan Banten dengan dinamika sosiokultural di Priangan Timur. Kelana dakwah beliau bukan sekadar perpindahan geografis biasa, melainkan sebuah migrasi intelektual dan spiritual yang menuntut kecerdasan tinggi dalam membaca budaya lokal Sunda. Menelusuri kembali sisa-sisa situs memori dan tradisi lisan yang ditinggalkannya menjadi sangat krusial, guna memahami bagaimana Islam inklusif yang dibawanya mampu meruntuhkan sekat budaya, berakar kuat, dan membentuk identitas religius warga Garut hari ini.

 

Secara historis, migrasi ulama Banten ke wilayah Garut merupakan bagian dari gelombang besar Islamisasi yang membentang dari Priangan Barat hingga Priangan Timur. Pergeseran geopolitik dan dorongan untuk meluaskan syiar Islam memicu para mubalig dari pesisir barat Jawa untuk bergerak ke arah timur. Wilayah pedalaman yang kala itu masih didominasi oleh hutan belantara dan pegunungan terisolasi justru dipandang sebagai ladang dakwah yang potensial. Dalam konteks makro inilah, langkah kaki Syekh Fatah Rohmatulloh diayunkan, membawa misi besar keagamaan dari pusat kekuasaan Banten menuju jantung kebudayaan Priangan.

Jalur dakwah yang dilalui oleh Syekh Fatah Rohmatulloh membelah rute-rute tradisional yang menghubungkan pusat Kesultanan Banten dengan wilayah pedalaman Pasundan yang saat itu masih kental dengan pengaruh kepercayaan lokal. Perjalanan ini bukanlah sebuah rute yang mudah, melainkan sebuah medan berat yang menuntut ketahanan fisik dan mental yang luar biasa. Sepanjang jalur tersebut, beliau berhadapan langsung dengan komunitas-komunitas adat yang masih memegang teguh konsep kepercayaan animisme, dinamisme, serta sisa-sisa pengaruh Hindu-Buddha. Transformasi spiritual di wilayah-wilayah yang dilintasi ini terjadi secara perlahan seiring dengan intensitas interaksi sang syekh dengan penduduk lokal.

Berbekal sanad keilmuan yang kuat dan pendekatan yang humanis, sang syekh tidak melakukan konfrontasi, melainkan memilih jalan akulturasi budaya. Beliau sangat memahami bahwa memaksakan sebuah ajaran baru secara radikal hanya akan melahirkan resistensi yang keras dari masyarakat Sunda pedalaman. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan bersifat persuasif dan berbasis pada keteladanan akhlak (as-siyasah al-syar’iyyah). Melalui tutur kata yang santun dan perilaku yang mencerminkan kedamaian, Syekh Fatah Rohmatulloh berhasil menyentuh hati para tokoh adat dan masyarakat setempat tanpa menimbulkan gejolak sosial.

Beliau merajut nilai-nilai Islam ke dalam tenun tradisi lokal, sehingga ajaran baru ini dapat diterima dengan tangan terbuka oleh masyarakat setempat. Praktik-praktik kebudayaan Sunda yang sudah ada tidak serta-merta dihanguskan, melainkan diisi dengan substansi tauhid dan napas islami. Kosmologi masyarakat lokal yang menghormati alam dialihkan menjadi rasa syukur kepada Allah Swt. sebagai Sang Pencipta. Strategi kultural yang genius ini membuat Islam tidak lagi dipandang sebagai agama asing dari pesisir, melainkan sebagai bagian integral dari identitas baru masyarakat pedalaman Garut.

Kini, warisan spiritual Syekh Fatah Rohmatulloh tidak hanya hidup dalam ingatan kolektif dan sejarah lisan masyarakat Garut, tetapi juga termanifestasi dalam berbagai situs sejarah dakwah Banten di Tanah Pasundan. Keberadaan makam, petilasan, dan masjid kuno menjadi saksi bisu yang menegaskan bahwa narasi kepahlawanan spiritual ini bukanlah sekadar mitos pengantar tidur. Keberadaan entitas fisik ini menjadi jangkar memori bagi generasi penerus untuk menengok kembali asal-usul spiritualitas mereka. Di tempat-tempat inilah, masyarakat modern Garut kerap berkumpul, berefleksi, dan merawat ikatan batin dengan sang penyebar risalah.

Situs-situs keramat dan petilasan yang ditinggalkannya menjadi bukti otentik sekaligus monumen hidup yang merekam jejak kegigihan sang ulama. Setiap sudut situs tersebut menyimpan cerita tentang bagaimana strategi dakwah dijalankan, mulai dari pemilihan lokasi pesantren yang strategis hingga sumber air yang dijadikan sarana bersuci. Keberadaan artefak-artefak budaya dan tradisi ziarah yang masih lestari hingga hari ini membuktikan bahwa pengaruh Syekh Fatah Rohmatulloh melampaui batas zamannya. Monumen hidup ini terus memancarkan energi spiritual yang mempengaruhi ritme kehidupan religius masyarakat sekitar.

Melalui dokumentasi dan pengarsipan yang intim terhadap situs serta manuskrip lisan ini, kita dapat melihat kembali bagaimana blueprint dakwah masa lalu berhasil mengarsiteki lanskap keagamaan garut modern yang moderat dan kaya akan nilai budaya. Rekonstruksi sejarah ini menjadi cermin penting di tengah arus modernisasi yang mengancam eksistensi nilai nilai lokal. Dari rekam jejak Syekh Fatah Rohmatulloh, masyarakat garut hari ini mewarisi corak keberagaman yang inklusif sebuah model islam yang ramah terhadap budaya, teguh dalam prinsip, namun tetap lentur dalam bersosialisasi.

 

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!