
Asap tipis dari bara api perlahan membungkus aroma khas Opak Linggar yang dipanggang di dapur-dapur warga Desa Linggar. Dibuat dengan cara tradisional dan resep turun-temurun, camilan renyah ini tetap bertahan di tengah gempuran makanan modern. Dari Bandung Timur, Opak Linggar terus membawa cerita tentang rasa, tradisi, dan identitas kuliner Sunda.
Sosok perajin menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi pembuatan Opak Linggar hingga saat ini. Nani (50), warga Desa Linggar, telah menekuni pembuatan opak selama puluhan tahun dengan mempertahankan cara produksi yang diwariskan keluarganya. Menurutnya, sebagian besar tahapan pembuatan Opak Linggar masih dilakukan secara tradisional sebagaimana yang diajarkan oleh generasi sebelumnya.
Setiap pagi, Nani memulai pekerjaannya dengan menyiapkan bahan-bahan utama berupa beras ketan yang telah direndam dan diolah menjadi adonan. Setelah melalui proses pencampuran bumbu, adonan kemudian dicetak dan di jemur sebelum dipanggang. “Dari dulu caranya masih seperti ini. Beras ketan diolah terlebih dahulu, kemudian dicetak dan dijemur sampai benar-benar kering sebelum dipanggang. Kalau proses penjemurannya kurang maksimal, hasil opaknya juga akan berbeda,” ujar Nani saat ditemui di rumah produksinya.
Selain mempertahankan teknik pembuatan tradisional, Nani juga mengaku masih menggunakan peralatan sederhana dalam proses produksi. Pemanggangan yang dilakukan di atas bara api dinilai mampu menghasilkan aroma khas yang menjadi ciri Opak Linggar. Proses tersebut juga menjadi salah satu alasan mengapa sebagian perajin tetap mempertahankan metode lama meskipun tersedia berbagai peralatan yang lebih modern.
Menurut Nani, permintaan Opak Linggar biasanya meningkat pada waktu-waktu tertentu, seperti menjelang hari besar atau musim liburan. Produk yang dihasilkannya tidak hanya dipasarkan kepada warga sekitar, tetapi juga dikirim ke beberapa daerah di luar Bandung. Hal tersebut menunjukkan bahwa makanan tradisional masih memiliki tempat di tengah beragam pilihan camilan yang tersedia saat ini.
Meski demikian, Nani mengatakan bahwa menjaga keberlangsungan usaha tradisional bukan tanpa tantangan. Ketersediaan bahan baku, kondisi cuaca saat proses penjemuran, serta berkurangnya minat generasi muda untuk menjadi perajin menjadi beberapa hal yang dihadapinya. “Anak-anak muda sekarang banyak yang memilih pekerjaan lain. Padahal kalau tidak ada yang meneruskan, tradisi membuat opak seperti ini bisa berkurang,” katanya.
Opak Linggar hingga kini masih menjadi salah satu produk kuliner tradisional yang dikenal masyarakat Bandung Timur. Keberadaannya tidak hanya mencerminkan hasil olahan pangan lokal, tetapi juga menunjukkan bagaimana pengetahuan dan keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun tetap dipraktikkan oleh sebagian masyarakat. Melalui para perajin seperti Nani, tradisi pembuatan Opak Linggar terus bertahan sebagai bagian dari kekayaan kuliner khas Sunda.
