
Pagi itu, lonceng istirahat baru saja berbunyi di sebuah sekolah di Kabupaten Cianjur. Puluhan siswa berhamburan keluar kelas, sebagian menuju lapangan, sebagian lagi bergegas ke kantin. Di tengah keramaian itu, aroma mi yang baru dimasak menguar dari sebuah gerai sederhana. Tak banyak yang mengetahui bahwa di balik kepulan uap hangat dan antrean para pelajar tersebut, tersimpan kisah panjang seorang pemuda yang berkali-kali jatuh sebelum akhirnya menemukan jalan usahanya sendiri.
Pemuda itu bernama Aziz Asharulloh, 22 tahun, warga Cianjur. Perjalanan hidupnya tidak berjalan lurus sebagaimana yang sering dibayangkan banyak orang. Setelah lulus sekolah pada tahun 2022, ia justru dihadapkan pada kenyataan bahwa impian untuk melanjutkan pendidikan tinggi harus berbenturan dengan kondisi ekonomi keluarga. Namun, seperti banyak kisah perjuangan lainnya, keterbatasan bukanlah akhir dari cerita. Bagi Aziz, keterbatasan justru menjadi titik awal perjalanan yang membentuk dirinya hingga menjadi seorang pelaku usaha muda.
Saat sebagian teman sebayanya menikmati masa liburan setelah kelulusan, Aziz memilih bekerja sebagai tenaga freelance di sebuah kafe selama dua bulan. Kesibukan melayani pelanggan, membersihkan meja, hingga meracik minuman menjadi pengalaman pertama yang memperkenalkannya pada dunia kerja. Dari pekerjaan sederhana itu, ia belajar bahwa setiap rupiah yang diperoleh memiliki nilai perjuangan yang tidak kecil.
Di tengah aktivitasnya bekerja, Aziz tetap menyimpan mimpi untuk melanjutkan pendidikan. Ia mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri dan berhasil diterima di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Kabar itu tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Namun, kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama. Kendala ekonomi membuatnya harus mengurungkan niat untuk berkuliah di kampus impiannya. Impian yang tertunda tidak membuatnya berhenti melangkah. Aziz mulai mencari berbagai peluang beasiswa. Hingga akhirnya, kesempatan itu datang. Ia diterima sebagai penerima beasiswa di STISIP dengan Program Studi Ilmu Pemerintahan. Sejak saat itu, kehidupan Aziz berjalan dalam dua jalur sekaligus: kuliah dan bekerja.
Perjalanan yang tampak sederhana dari luar sebenarnya penuh dengan pergulatan. Di usia yang masih sangat muda, Aziz harus membagi waktu antara ruang kelas dan dunia kerja. Namun, justru dari pengalaman itulah ia menemukan banyak pelajaran yang kelak menjadi bekal penting ketika terjun ke dunia usaha. Pekerjaan pertama yang dijalaninya setelah menjadi mahasiswa adalah sebagai Executive Sales di Toyota. Selama tiga bulan, ia belajar memahami kebutuhan konsumen, membangun komunikasi, serta menghadapi target penjualan. Dunia otomotif memberinya pelajaran bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga kemampuan memahami manusia.
Setelah itu, Aziz melanjutkan pekerjaannya di Akulaku, Cibubur, selama dua bulan. Di sela-sela kesibukan bekerja, kuliahnya tetap berjalan secara daring. Hari-harinya dipenuhi oleh jadwal yang padat. Pagi hingga sore bekerja, malam hari mengikuti perkuliahan. Pola hidup seperti itu menuntut disiplin yang tinggi, namun Aziz menjalaninya dengan tekad kuat. Pengalaman berikutnya membawanya ke WOM Finance. Di perusahaan pembiayaan tersebut, ia bekerja sebagai bagian marketing selama tiga bulan dan kemudian menjadi survey analyst selama lima bulan. Posisi ini membuatnya lebih banyak turun ke lapangan, bertemu berbagai karakter masyarakat, dan menganalisis usaha milik konsumen.
Di sinilah cara pandangnya mulai berubah. Setiap hari ia melihat bagaimana para pelaku usaha kecil berjuang mempertahankan bisnis mereka. Ia menyaksikan langsung bagaimana seseorang membangun usaha dari nol, menghadapi risiko, lalu bertahan di tengah persaingan. Pengalaman itu perlahan menumbuhkan keyakinan dalam dirinya bahwa suatu hari nanti ia juga ingin memiliki usaha sendiri. Di sisi lain, Aziz memiliki kegemaran yang sudah lama ia sukai, yakni memasak dan meracik minuman. Kegemaran tersebut tidak lagi sekadar menjadi hobi. Ia mulai melihatnya sebagai peluang yang bisa dikembangkan menjadi usaha. Keputusan besar pun diambil. Aziz memilih keluar dari zona nyaman sebagai karyawan dan mulai merintis usaha sendiri. Langkah pertama yang ia ambil adalah membuka kedai smoothies.
Usaha smoothies itu lahir dari semangat dan optimisme yang tinggi. Aziz percaya bahwa minuman sehat memiliki peluang pasar yang menjanjikan. Namun realitas bisnis tidak selalu berjalan sesuai rencana. Hanya dalam waktu dua bulan, usaha tersebut harus berhenti beroperasi. Persaingan yang tidak sehat dari pihak lain membuat bisnis yang baru dirintis itu sulit bertahan. Kegagalan pertama tentu meninggalkan rasa kecewa. Namun, Aziz tidak ingin berlama-lama terjebak dalam penyesalan. Ia mulai mengamati lingkungan sekitar dan mencari celah pasar yang belum banyak dimanfaatkan. Suatu hari, muncul sebuah pertanyaan sederhana dalam pikirannya. “Rata-rata UMKM di luar itu targetnya anak sekolah. Kenapa saya tidak buka langsung di sekolah?” Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi justru menjadi titik balik penting dalam perjalanan usahanya. Dari sanalah muncul ide untuk membuka usaha di lingkungan sekolah.
Sekolah pertama yang menjadi lokasi usahanya adalah SMK Bunga Persada Cianjur. Awalnya ia menjual jus dan smoothies. Produk tersebut sebenarnya cukup menarik, tetapi harga jualnya kurang sesuai dengan daya beli para siswa. Penjualan tidak berkembang seperti yang diharapkan. Aziz kembali mengubah strategi. Ia mencoba berjualan es jeruk. Harapannya, harga yang lebih terjangkau dapat menarik minat siswa. Namun kenyataannya, usaha tersebut hanya bertahan sekitar satu minggu.
Belum menyerah, ia mencoba lagi dengan menjual cilok. Produk yang sangat akrab dengan kalangan pelajar itu diyakini memiliki peluang besar. Akan tetapi, hasilnya masih belum sesuai harapan. Minat pembeli tetap rendah. Tiga kali mencoba, tiga kali pula menghadapi kegagalan. Banyak orang mungkin memilih berhenti pada titik tersebut. Namun bagi Aziz, setiap kegagalan justru menjadi bahan evaluasi. “Kenapa tempat itu selalu ramai?” Pertanyaan tersebut kembali memunculkan ide baru. Jika mi begitu digemari anak muda, mengapa tidak mencoba menjual produk serupa di lingkungan sekolah?. Dari pemikiran itulah lahir sebuah merek sederhana bernama Mie Jagoan.
Keputusan menjual mi ternyata menjadi jawaban atas pencarian panjang yang selama ini dilakukan Aziz. Produk tersebut diterima dengan baik oleh para siswa. Antrean mulai terlihat. Penjualan meningkat. Untuk pertama kalinya, ia merasakan bahwa usahanya menemukan pasar yang tepat. Keberhasilan di SMK Bunga Persada menjadi awal yang menggembirakan. Tidak lama kemudian, Aziz membuka cabang baru di SMAN 1 Cianjur. Langkah itu diambil karena ia melihat potensi pasar yang lebih besar.
Hasilnya bahkan melampaui perkiraannya. Penjualan di SMAN 1 Cianjur jauh lebih baik dibandingkan lokasi sebelumnya. Permintaan terus meningkat dari hari ke hari. Kondisi tersebut membuat Aziz mengambil keputusan penting: menutup gerai di SMK Bunga Persada dan memusatkan perhatian pada lokasi yang lebih potensial. Keputusan itu terbukti tepat. Usahanya berkembang semakin pesat. Dengan meningkatnya penjualan, Aziz mulai membutuhkan bantuan tenaga kerja. Ia merekrut seorang karyawan untuk membantu operasional usaha.
Namun perjalanan belum berhenti sampai di sana. Setelah usahanya stabil di SMAN 1 Cianjur, Aziz kembali melihat peluang baru. Ia membuka usaha di SMKN 1 Cianjur yang memiliki dua kampus dengan lokasi berjauhan. Keadaan tersebut membuatnya harus membuka dua titik penjualan sekaligus. Ekspansi usaha itu membawa konsekuensi baru. Kebutuhan produksi meningkat drastis. Untuk memenuhi permintaan pelanggan, Aziz merekrut dua orang penjual dan tiga orang anggota tim produksi.
Dari seorang pemuda yang pernah gagal berkali-kali menjual smoothies, es jeruk, dan cilok, kini ia menjadi pengusaha muda yang mampu membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Usahanya terus berkembang hingga awal tahun 2026. Pada periode tersebut, Aziz kembali membuka cabang baru di MAN 1 Cianjur. Bersamaan dengan itu, ia merekrut dua karyawan tambahan untuk mendukung operasional usaha yang semakin besar. Di balik pertumbuhan tersebut, Aziz memiliki alasan yang sangat rasional mengapa memilih sekolah sebagai lokasi bisnisnya. Menurutnya, sekolah memiliki pasar yang jelas. Setiap hari terdapat ratusan hingga ribuan siswa yang beraktivitas di satu lokasi.
Selain itu, siswa umumnya memiliki uang jajan yang sudah disiapkan oleh orang tua mereka. Dengan demikian, potensi transaksi selalu tersedia setiap hari sekolah berlangsung. Alasan lainnya adalah waktu pembelian yang teratur. Jam istirahat sekolah menciptakan pola konsumsi yang dapat diprediksi. Hal itu memudahkan persiapan bahan baku, produksi, dan pelayanan.
Bagi sebagian orang, keberhasilan sering kali terlihat sebagai hasil dari satu keputusan besar. Namun kisah Aziz Asharulloh menunjukkan hal yang berbeda. Kesuksesan yang ia raih hari ini bukanlah hasil dari satu langkah spektakuler, melainkan akumulasi dari berbagai kegagalan yang pernah ia alami. Ia pernah gagal melanjutkan kuliah di kampus impian. Ia pernah berpindah-pindah pekerjaan. Ia pernah kehilangan usaha yang baru dirintis. Ia juga pernah mencoba menjual berbagai produk yang tidak diminati pasar. Namun setiap kegagalan itu tidak pernah benar-benar menghentikan langkahnya.
Sebaliknya, kegagalan justru menjadi ruang belajar yang memperkaya pengalaman dan memperkuat ketangguhan dirinya. Dari setiap usaha yang tidak berhasil, ia memperoleh satu pelajaran baru. Dari setiap penolakan pasar, ia menemukan arah yang lebih tepat. Kini, melalui Mie Jagoan yang hadir di sejumlah sekolah di Kabupaten Cianjur, Aziz tidak hanya menjual makanan kepada para siswa. Ia juga menghadirkan bukti bahwa keberhasilan dapat lahir dari keberanian untuk terus mencoba.
Di tengah riuh suara bel istirahat dan antrean siswa yang memenuhi kantin sekolah, ada cerita yang mungkin tidak terlihat oleh banyak orang. Cerita tentang seorang pemuda berusia 22 tahun yang memilih terus berjalan ketika jalan hidupnya berkali-kali berbelok. Cerita tentang mimpi yang tidak menyerah pada keadaan. Dan cerita tentang keyakinan bahwa selama seseorang mau belajar dari kegagalan, selalu ada peluang untuk menjadi pemenang dalam kehidupannya sendiri.
