
Setiap bulan Syawal, ketika gema takbir Idulfitri mulai mereda dan suasana silaturahmi masih terasa hangat di Desa Wanasalam, Kabupaten Majalengka, masyarakat kembali menantikan sebuah tradisi yang telah hidup selama bergenerasi. Dari kejauhan, suara lonceng kecil mulai berdenting cek… cek… cek…. Bunyi khas itu mengalun bersama tabuhan kendang, memanggil warga untuk berkumpul di tempat pertunjukan. Anak-anak berlarian mencari tempat paling depan, para orang tua tersenyum mengenang masa lalu, sementara para perantau yang pulang kampung ikut berbaur dalam keramaian. Di tengah perubahan zaman yang terus bergerak cepat, denting lonceng sederhana itu kembali menghidupkan sebuah warisan budaya yang masih bertahan hingga hari ini: Kuda Cek Cek.
Namun siapa sangka, di balik bunyi lonceng yang terdengar riang itu tersimpan kisah panjang tentang sejarah, kepercayaan, dan perjuangan masyarakat menjaga identitas budayanya. Kesenian yang bagi sebagian orang hanya dianggap hiburan rakyat ini ternyata menyimpan makna yang jauh lebih dalam. Ia bukan sekadar pertunjukan, melainkan jejak ingatan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bagi masyarakat Wanasalam, Kuda Cek Cek bukanlah sesuatu yang asing. Kesenian ini telah menjadi bagian dari kehidupan warga sejak lama. Hampir setiap orang yang tumbuh di desa ini memiliki kenangan tentang Kuda Cek Cek, baik sebagai penonton maupun sebagai pelaku yang terlibat langsung dalam pertunjukan.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Kuda Cek Cek telah ada sejak masa penjajahan. Meski belum ditemukan catatan tertulis yang menjelaskan secara pasti kapan kesenian ini lahir, warga percaya bahwa tradisi tersebut merupakan warisan leluhur yang telah dijaga selama bertahun-tahun. Nama “Kuda Cek Cek” sendiri berasal dari bunyi lonceng kecil yang dipasang pada tubuh kuda tiruan. Ketika dimainkan, lonceng itu menghasilkan suara “cek cek” yang kemudian menjadi identitas kesenian ini.
Kuda yang digunakan bukanlah kuda sungguhan, melainkan kuda tiruan yang terbuat dari bambu dan kulit hewan. Meski sederhana, benda itu mampu menghidupkan suasana ketika dimainkan oleh para pemain . Diiringi tabuhan kendang dan alat musik tradisional lainnya, para pemain bergerak mengikuti irama dengan penuh semangat. Debu lapangan yang beterbangan, suara penonton yang bersorak, dan denting lonceng yang bersahutan menciptakan suasana yang sulit ditemukan dalam hiburan modern.
Di tengah pertunjukan, perhatian penonton biasanya tidak hanya tertuju pada gerakan para pemain. Ada satu bagian yang selalu membuat mereka penasaran, yaitu ketika beberapa pemain mulai menunjukkan perubahan perilaku. Gerakannya menjadi lebih cepat, tatapannya tampak kosong, dan tubuhnya bergerak seolah mengikuti irama yang hanya bisa mereka dengar sendiri. Masyarakat setempat menyebut kondisi itu sebagai kesurupan.
Salah seorang pemain yang pernah mengalami kondisi tersebut mengaku tidak sepenuhnya sadar ketika pertunjukan berlangsung. Setelah acara selesai, ia hanya mengingat sebagian kecil dari apa yang terjadi dan tubuhnya yang terasa pegal.
“Saya sebenarnya tidak sadar waktu itu. Tapi masih ingat wajah orang – orang yang saya kenal, meskipun samar-samar. Nah, setelah acara selesai, baru kerasa nih badan pegal – pegal” ujarnya.
Pengalaman seperti itu bukan hal baru dalam pertunjukan Kuda Cek Cek. Bagi sebagian masyarakat, fenomena tersebut dianggap sebagai bagian dari unsur spiritual yang telah lama melekat pada kesenian ini. Meski demikian, para pelaku seni tetap memandangnya sebagai bagian dari tradisi yang harus disikapi dengan bijak.
Dahulu, cerita mengenai pemain yang memakan pecahan kaca atau ayam mentah saat kesurupan sering terdengar di kalangan masyarakat. Atraksi semacam itu bahkan menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton. Namun seiring berjalannya waktu, praktik-praktik tersebut mulai ditinggalkan.
Kini pertunjukan Kuda Cek Cek lebih menonjolkan nilai budaya dan hiburan. Para pelaku seni berusaha menjaga agar tradisi tetap hidup tanpa mengabaikan keselamatan para pemain. Meski beberapa unsur lama masih dikenang, masyarakat tampaknya lebih memilih mempertahankan makna budaya daripada mempertontonkan hal-hal yang berisiko.
Selain fenomena kesurupan, terdapat tradisi lain yang hingga kini masih dipertahankan, yaitu nyawer. Saat pertunjukan berlangsung, penonton sering memberikan sejumlah uang kepada pemain sebagai bentuk apresiasi. Menariknya, ketika penonton bertepuk tangan atau memanggil pemain yang sedang menari mengikuti irama gendang, pemain tersebut akan berlari menghampiri dan mengambil uang saweran menggunakan mulutnya.
Momen itu hampir selalu mengundang perhatian penonton. Anak-anak biasanya tertawa sambil bersembunyi di belakang orang tuanya, sementara orang dewasa menikmati adegan tersebut sebagai bagian dari tradisi yang telah mereka kenal sejak kecil.
Di balik berbagai keunikan itu, Kuda Cek Cek sesungguhnya mengajarkan sesuatu yang sederhana; yaitu kebersamaan. Pertunjukan ini menjadi ruang bertemunya masyarakat tanpa memandang usia maupun latar belakang. Semua berkumpul di tempat yang sama, menikmati pertunjukan yang sama, dan merasakan kebanggaan yang sama terhadap budaya yang mereka miliki.
Di era ketika berbagai hiburan dapat diakses hanya melalui layar telepon genggam, keberadaan Kuda Cek Cek menjadi pengingat bahwa masyarakat masih membutuhkan ruang-ruang kebersamaan yang nyata. Ruang tempat orang dapat saling menyapa, bercengkerama, dan merayakan identitas budaya mereka sendiri.
Tantangan tentu tetap ada. Generasi muda kini hidup dalam dunia yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka tumbuh bersama media sosial, permainan digital, dan berbagai bentuk hiburan modern. Namun hingga hari ini, Kuda Cek Cek masih mampu menarik perhatian mereka.
Buktinya terlihat setiap kali pertunjukan digelar. Anak-anak tetap berlari menuju tempat pertunjukan. Remaja tetap sibuk merekam jalannya pertunjukan. Bahkan para perantau yang pulang kampung sering menyempatkan diri untuk menyaksikannya. Seolah ada kerinduan yang selalu terobati ketika suara lonceng itu kembali terdengar.
Menjelang berakhirnya pertunjukan, suasana di arena berubah menjadi semakin tegang. Para pemain yang sejak tadi menari dengan kuda bambunya mulai menunjukkan gerakan yang tidak beraturan. Di tengah arena, tukang rajah berdiri sambil memegang sebatang kayu yang dililit kain kafan dan diberi aroma kemenyan. Semua mata tertuju ke arahnya.
Satu per satu pemain kemudian menghadap tukang rajah. Pada saat ini suasana di sekitar tempat pertunjukan sangat menegangkan, dengan diiringi suara gamelan. Dengan gerakan tiba-tiba, pemain yang sedang berada dalam kondisi kesurupan berlari kencang ke arah tukang rajah. Beberapa orang yang telah bersiap di sekitar perajah segera membantu mengamankan pemain tersebut agar tidak membahayakan dirinya maupun orang lain.
Ketika pemain telah berada di hadapan tukang rajah, prosesi rajah pun dimulai. Batang kayu yang dibalut kain kafan itu didekatkan ke wajah pemain, sementara doa-doa dan mantra dibacakan perlahan. Dalam beberapa kesempatan, pemain terlihat memberontak, berteriak, atau menggerakkan tubuhnya dengan keras. Karena itu, beberapa anggota kelompok harus membantu memegangi tubuh pemain sekaligus melepaskan kuda anyaman bambu yang sejak awal pertunjukan dibawanya.
Bagi penonton, prosesi ini menjadi salah satu bagian yang paling menegangkan. Tidak sedikit anak-anak yang memilih bersembunyi di belakang orang tuanya, sementara orang dewasa menyaksikan dengan penuh perhatian. Perlahan, setelah prosesi rajah dilakukan, gerakan pemain mulai melemah. Tubuh yang sebelumnya tampak beringas menjadi tenang. Sebagian terkulai lemas, sebagian lainnya terduduk sambil memulihkan kesadaran.
Prosesi tersebut menandai berakhirnya perjalanan para pemain Kuda Cek Cek. Setelah semua kembali sadar, tabuhan kendang pun diperlambat hingga akhirnya berhenti.
Namun denting “cek…cek…cek…” itu seakan tidak benar-benar berhenti.
Ia tetap tinggal dalam ingatan masyarakat Wanasalam sebagai suara yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Suara yang mengingatkan bahwa sebuah budaya tidak akan hidup karena dicatat dalam buku, melainkan karena terus dijaga, dimainkan, dan diwariskan.
Kuda Cek Cek mungkin hanya sebuah kesenian rakyat di sudut Kabupaten Majalengka. Namun bagi masyarakat Wanasalam, ia adalah cerita tentang siapa mereka sebenarnya. Sebuah warisan yang mengajarkan bahwa sejauh apa pun zaman bergerak, manusia tidak boleh kehilangan akar tempat ia berpijak.
Dan selama dentang lonceng itu masih terdengar setiap bulan Syawal, selama masih ada anak-anak yang berlari menuju tempat pertunjukan, Kuda Cek Cek akan terus hidup, menari bersama waktu, menjaga ingatan, dan bercerita tentang leluhur kepada generasi yang akan datang.
