Plastik Mahal, Laundry Menjerit

Cerita di Balik Lonjakan Harga yang Bikin Pusing

Pagi itu, udara di gang sempit kawasan Cipondoh, Tangerang, masih terasa segar. Mesin cuci berputar, wangi detergen mengambang di udara, dan tumpukan baju siap antar memenuhi sudut ruangan. Tapi di balik kesibukan yang terlihat biasa itu, ada keresahan yang sedang menumpuk di dada Bu Novi, 34 tahun, seorang karyawan laundry kiloan yang sudah hampir lima tahun menekuni pekerjaannya.

Bukan soal pelanggan yang protes atau mesin cuci yang ngadat. Bukan pula soal listrik yang naik. Ini soal plastik, plastik kresek, plastik rol dan plastik kemasan. Harganya naik, dan naiknya tidak tanggung-tanggung.

Kalau ditanya kapan pertama kali merasakan dampaknya,Bu Novi tidak perlu berpikir lama. Ia ingat betul, sekitar akhir Maret 2026, ketika pergi ke toko langganannya untuk membeli stok plastik kemasan laundry.

“Biasanya satu pak isi plastik kresek ukuran besar itu sekitar Rp 18.000 sampai Rp 20.000, sekarang udah Rp 26.000 sampai Rp 28.000. Kaget juga waktu itu, kirain salah lihat harga,” cerita Novi sambil melipat baju pelanggan dengan cekatan.

Kenaikan itu memang bukan sekadar perasaan. Data dari lapangan mencatat harga kemasan plastik sekali pakai termasuk plastik kresek dan gelas plastik naik hingga Rp 8.000 per bungkus sejak awal April 2026. Pemicunya adalah gangguan rantai pasok bahan baku plastik global, yang ikut terdampak oleh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya ancaman terhadap jalur distribusi energi di Selat Hormuz.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono, menyebut harga bahan baku plastik yang sebelumnya berada di kisaran US$ 1.000 per metrik ton kini telah melonjak hingga US$ 1.800  kenaikan hampir 80 persen dalam waktu singkat. Di sektor hilir, harga produk plastik jadi ikut naik antara 40 hingga 80 persen. Inaplas bahkan menyebut industri sudah masuk fase “ganti harga”, sebuah istilah yang tidak pernah terdengar menyenangkan di telinga para pelaku usaha kecil.

Bagi industri besar, kenaikan ini bisa diserap dengan berbagai mekanisme keuangan. Tapi bagi Bu Novi dan jutaan pelaku usaha kecil sepertinya, pilihan yang tersedia jauh lebih sempit.

Mau naikkan harga jasa laundry, takut pelanggan kabur. Mau hemat plastik juga susah, karena setiap baju yang selesai disetrika harus dibungkus biar rapi dan bersih sampai ke tangan pelanggan. Itu sudah jadi standar kami,” kata Novi dengan nada pasrah.

Masalah ini sebenarnya lebih besar dari sekadar kantong plastik yang mahal. Menurut Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, hampir seluruh produk makanan dan minuman menggunakan plastik sebagai kemasan, sementara pasokan bahan bakunya mulai terbatas.

Ia menggambarkan tekanan itu dengan ilustrasi yang gamblang: jika kontribusi kemasan mencapai 20 persen dari biaya produksi dan harga plastik naik 60 persen, maka harga pokok bisa melonjak sekitar 12 persen. Bila harga jual hanya mampu dinaikkan 5 persen, pengusaha sudah tekor 7 persen. Bayangkan jika kenaikan plastiknya hampir 80 persen seperti yang terjadi sekarang.

Akar persoalannya ada di hulu: sekitar 70 persen bahan baku industri plastik nasional masih bergantung pada pasokan dari kawasan Timur Tengah. Artinya, setiap gejolak geopolitik di sana langsung terasa sampai ke kantong plastik laundry di gang-gang sempit Tangerang.

Dampak paling keras memang dirasakan oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Mereka tidak punya posisi tawar seperti perusahaan besar, tidak ada kontrak jangka panjang dengan pemasok, tidak ada divisi keuangan yang bisa merancang strategi lindung nilai. Yang ada hanya perhitungan harian: beli, kemas, jual, survive.

“Dulu saya bisa beli plastik seminggu sekali. Sekarang saya beli sedikit-sedikit, karena takut kalau beli banyak, besok harga naik lagi. Kan sayang kalau terlanjur beli mahal terus ternyata ada yang lebih murah,” ujar Novi dengan nada setengah bercanda, meski di balik tawanya ada kelelahan yang nyata.

Di laundry tempatnya bekerja, Bu Novi bukan pemilik usaha  ia karyawan. Tapi ia merasakan langsung bagaimana tekanan harga plastik membuat sang pemilik laundry jadi lebih sering mengernyitkan dahi. Rapat kecil antar karyawan yang biasanya santai, belakangan sering kali berujung pada pertanyaan yang sama: “Kita harus gimana?”

Bu Rus itu pemiliknya sempat bilang mungkin kita bakal kurangi ketebalan plastik. Yang tadinya pakai dua lapis, sekarang cukup satu. Tapi ya gimana, kan plastik tipis juga nggak nyaman juga buat pelanggan, bajunya nanti bisa keliatan dekil dari luar,” cerita Bu Novi.

Dilema semacam ini dialami oleh banyak pelaku usaha kecil di seluruh Indonesia. Mereka terjepit di antara dua kepentingan yang sama-sama tidak bisa diabaikan: menjaga kualitas layanan dan menjaga margin keuntungan agar usaha tetap hidup.

Sementara itu, solusi yang ditawarkan di level makro seperti beralih ke kemasan guna ulang dan sistem isi ulang (refill) memang masuk akal secara jangka panjang. Survei Greenpeace Indonesia pada 2021 menunjukkan hampir 70 persen responden bersedia beralih ke produk dengan sistem isi ulang. Namun transisi itu butuh investasi, butuh infrastruktur, dan yang paling penting, butuh waktu. Sementara harga terus naik hari ini, bukan tahun depan.

Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia, Ibar Akbar, menegaskan bahwa kondisi ini sebenarnya sudah lama diprediksi. Ketergantungan pada minyak bumi dan plastik sekali pakai sebagai turunannya adalah bom waktu. “Kini risiko itu menjadi nyata ketika konflik global langsung memukul rantai pasok plastik,” kata Ibar.

Percakapan dengan Bu Novi tidak hanya soal angka dan strategi bisnis. Ada bagian yang lebih personal dan lebih menyayat.

Jujur ya, kadang saya yang nombokin buat beli plastik dari uang sendiri dulu. Kan nggak enak kalau laundry nggak ada plastik, pelanggan juga komplain. Jadi ya sudah, pakai uang saku dulu, nanti lapor ke Bu Rus minta ganti. Tapi ya itu, sering lupa, dan saya juga nggak enak nagih terus,” katanya, sambil tersenyum kecil senyum yang lebih mirip pasrah daripada bahagia.

Cerita Bu Novi mencerminkan realitas yang lebih luas. Kenaikan harga plastik bukan sekadar angka di laporan industri. Ia merambat pelan tapi pasti ke dalam kehidupan sehari-hari, ke dalam kantong pekerja bergaji harian, ke dalam keputusan-keputusan kecil yang sebenarnya tidak pernah kecil dampaknya.

Kenaikan plastik terdengar sepele dibandingkan krisis energi berskala besar. Tapi justru di situlah masalahnya ia terlalu “kecil” untuk diperhatikan secara serius, tapi cukup besar untuk menggerus kehidupan orang-orang seperti Bu Novi, sedikit demi sedikit, hari demi hari.

Hingga pertengahan Mei 2026, belum ada tanda-tanda harga plastik akan segera kembali normal. Konflik geopolitik di Timur Tengah masih berlangsung. Pasokan bahan baku masih tersendat. Beberapa pemasok sudah memberi sinyal bahwa stok mereka akan habis di akhir Mei atau Juni 2026. Industri besar mulai merancang strategi jangka menengah. Tapi bagi Bu Novi dan jutaan pekerja kecil di balik bisnis-bisnis sederhana, strategi jangka menengah adalah kemewahan yang tidak terjangkau.

“Saya sih cuma berharap harganya balik normal. Nggak usah murah banget, yang penting stabil. Kalau stabil, kita bisa ngitung. Kalau terus naik kayak gini, susah. Mau naik gaji nggak mungkin, mau minta insentif tambahan juga nggak enak. Jadinya ya nahan napas aja dulu,” kata Bu Novi, menutup obrolan sore itu dengan nada tenang terlalu tenang, seperti orang yang sudah terlalu sering menelan kekhawatiran sendirian.

Di luar, mesin cuci masih berputar. Tumpukan baju masih menunggu. Di rak kecil dekat pintu masuk, stok plastik yang tersisa tinggal tiga pak cukup untuk tiga hari ke depan. Setelah itu, Novi akan kembali ke toko. Melihat harga. Menghitung. Dan mungkin, sekali lagi, merogoh kantongnya sendiri.

Novi (34 tahun) adalah karyawan laundry kiloan di kawasan Cipondoh, Tangerang. Nama samaran digunakan atas permintaan narasumber.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!