
Matahari sore mulai meredup di antara bangunan-bangunan tua yang berdiri kokoh di kawasan Braga, Bandung. Di tengah lalu lalang wisatawan yang sibuk mengabadikan momen dan menikmati suasana kota, seorang lelaki tua berjalan perlahan menyusuri trotoar. Di tangannya tergenggam beberapa bungkus tisu yang menjadi sumber penghidupannya. Langkahnya tidak lagi tegap seperti dahulu, tetapi semangatnya tetap bertahan melawan kerasnya kehidupan.
Lelaki itu adalah Pak Jaya, yang berumur 72 tahun. Wajahnya menyimpan jejak perjalanan hidup yang panjang. Kerutan di dahinya seakan menjadi saksi berbagai perjuangan yang telah dilalui. Setiap hari, sejak pagi buta hingga menjelang malam, Pak Jaya berkeliling menawarkan tisu kepada siapa saja yang ditemuinya di kawasan Braga.
Di balik senyumnya yang ramah, tersimpan kisah yang membuat hati terenyuh.
“Saya setiap hari tidur di teras masjid,” ucapnya lirih sambil menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata.
Pak Jaya berasal dari Sumatera. Bertahun-tahun lalu ia memutuskan merantau ke Bandung demi mencari nafkah. Kini, di usia senja, ia menjalani hidup seorang diri. Istri yang dahulu menjadi teman seperjuangan telah meninggal dunia. Sementara itu, ketiga anaknya telah berkeluarga dan menjalani kehidupan masing-masing.
Sudah lima tahun Pak Jaya tidak pulang ke kampung halamannya. Jarak yang jauh dan biaya perjalanan yang tidak sedikit membuat kerinduan itu terus tertahan. Lebih menyakitkan lagi, selama bertahun-tahun tidak ada kabar yang datang dari anak-anaknya.
“Saya tidak mau anak saya tahu pekerjaan saya di sini. Saya juga tidak mau merepotkan mereka. Makanya saya pergi merantau ke Bandung,” katanya sambil mengusap air mata yang jatuh perlahan.
Bagi sebagian orang, menjual tisu mungkin terlihat sebagai pekerjaan sederhana. Namun bagi Pak Jaya, pekerjaan itu adalah cara untuk tetap bertahan hidup. Setiap pagi pukul lima, ia mulai berjalan menyusuri jalanan kota. Dulu ia mampu berjualan hingga larut malam. Namun kini, penyakit asam urat yang dideritanya membuat langkahnya semakin terbatas. Saat matahari mulai tenggelam, tubuh renta itu sudah tidak lagi mampu melanjutkan perjalanan.
Pendapatan yang diperolehnya pun tidak menentu.
“Kadang saya dapat tiga puluh ribu, kadang lima puluh ribu. Paling besar itu tujuh puluh ribu per hari. Belum lagi uangnya harus disetorkan. Uang itu cuma cukup buat makan dua kali,” ujarnya sambil meringis menahan nyeri.
Sebelum menjadi penjual tisu, Pak Jaya pernah bekerja sebagai sopir. Namun usia dan kondisi kesehatan membuatnya tidak lagi sanggup menjalankan pekerjaan tersebut. Menjual tisu menjadi pilihan terakhir agar tetap bisa bertahan hidup.
Di tengah percakapan, Suaranya bergetar ketika mengingat keluarga yang telah lama tidak ditemui.
“Saya jadi teringat cucu saya,” katanya pelan.
Kalimat singkat itu terasa begitu berat. Kerinduan yang selama ini disimpan seolah tumpah dalam satu ungkapan sederhana. Di usia yang seharusnya diisi dengan kebersamaan bersama anak dan cucu, Pak Jaya justru harus menghadapi hari-harinya seorang diri di kota orang.
Namun hebatnya, kesedihan tidak membuatnya kehilangan harapan.
Di balik segala keterbatasan, Pak Jaya masih menyimpan semangat yang jarang dimiliki banyak orang. Senyum tetap terlukis di wajahnya ketika ia menyampaikan pesan untuk generasi muda.
“Tetap semangat menjalani hidup. Jangan mudah putus asa, karena hal yang besar terlahir dari usaha yang besar juga.”
Kisah Pak Jaya mengingatkan bahwa perjuangan hidup tidak mengenal usia. Di balik sosok renta yang berjalan perlahan di trotoar Braga, terdapat keteguhan hati yang luar biasa. Ketika banyak orang mengeluhkan kehidupan, Pak Jaya justru mengajarkan arti bertahan, bekerja dengan jujur, dan tetap berharap meski keadaan tidak selalu berpihak.
Barangkali, di antara hiruk pikuk kota yang sering membuat manusia lupa untuk peduli, sosok Pak Jaya adalah pengingat bahwa setiap orang yang ditemui di jalan memiliki cerita perjuangannya sendiri. Dan terkadang, satu sapaan hangat atau sebungkus tisu yang dibeli dapat menjadi bentuk penghargaan sederhana bagi mereka yang sedang berjuang mempertahankan hidup.
