
SUMEDANG — Pemerintah Kabupaten Sumedang mendorong Situs Gunung Kunci sebagai unggulan wisata edukasi berbasis sejarah yang dapat dikunjungi masyarakat luas. Berlokasi strategis di dekat alun-alun kota, situs ini berfungsi sebagai Taman Hutan Raya (Tahura) yang menawarkan pengalaman menelusuri goa peninggalan Belanda, benteng pertahanan, hingga ruang interogasi yang tersembunyi di balik bukit kecil sebagai kamuflase alami.
Berdiri tersembunyi di jantung Kota Sumedang, Situs Gunung Kunci menyimpan jejak sejarah panjang yang kini mulai perlahan diperkenalkan kepada publik. Berdasarkan papan informasi yang terpasang di lokasi, sebelum beralih fungsi menjadi Taman Hutan Raya, bangunan ini merupakan benteng pertahanan yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda antara tahun 1914 hingga 1917, pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum. Pada periode yang sama, Sumedang dipimpin oleh Bupati Pangeran Aria Soeria Atmadja. Menurut pengelola situs, benteng ini sengaja dirancang sebagai pos pertahanan sekaligus gudang amunisi bagi pasukan Belanda.
Letaknya yang berada di atas bukit kecil di tengah kota dipilih secara strategis karena memberikan pandangan luas ke segala penjuru wilayah, sehingga memudahkan pengawasan dan pengendalian militer pada masa itu. Bukit ini sekaligus berfungsi sebagai kamuflase alami yang menyembunyikan keberadaan benteng dari pandangan luar. Di dalamnya terdapat goa-goa yang dulu digunakan untuk menyimpan senjata, serta ruang interogasi yang gelap dan sempit, dan semua bagian itu masih bisa dilihat dan dirasakan langsung oleh pengunjung sampai saat ini.
“Beteng ini bukan sekadar bangunan tua. Di dalamnya ada goa-goa yang dulunya dipakai untuk menyimpan senjata, ada pula ruang interogasi yang gelap dan sempit. Semuanya masih bisa dilihat dan dirasakan langsung oleh pengunjung sampai saat ini,” ujar Wawan, Pengelola Situs Gunung Kunci, Rabu (3/9/2025).
Kini, kawasan tersebut dikelola sebagai Taman Hutan Raya yang terbuka untuk umum. Pengunjung dapat menikmati rindangnya pepohonan sambil menelusuri terowongan dan struktur benteng yang masih terjaga kondisinya hingga sekarang. Suasana sejuk dan rimbun yang menyelimuti kawasan ini membuat jejak masa lalu terasa berbeda dari benteng-benteng peninggalan kolonial pada umumnya, yang biasanya berdiri gersang tanpa peneduh.
Pemerintah daerah bersama pengelola setempat terus merawat dan mempromosikan situs ini sebagai destinasi wisata edukasi sejarah, baik bagi pelajar, mahasiswa, maupun wisatawan umum. Berbagai fasilitas pendukung juga mulai dilengkapi, di antaranya papan informasi sejarah, jalur trekking yang tertata, dan pemandu wisata lokal yang siap menjelaskan kisah di balik setiap sudut benteng kepada pengunjung yang datang.
Meski potensinya besar, pengelola masih menghadapi sejumlah tantangan. Keterbatasan anggaran untuk pemugaran dan promosi menjadi salah satu kendala utama. Selain itu, minimnya dokumentasi sejarah yang tersedia membuat upaya rekonstruksi informasi mengenai situs ini memerlukan riset mendalam yang membutuhkan waktu dan sumber daya tidak sedikit.
Di balik gerbang bukit kecil yang dulu menjadi pos pertahanan itu, Situs Gunung Kunci kini berdiri sebagai pengingat bahwa Sumedang menyimpan kekayaan sejarah yang layak ditelusuri lebih jauh oleh siapa pun yang datang. Goa, terowongan, dan ruang interogasi yang masih tersisa hingga kini menjadi saksi bisu dari satu periode panjang yang pernah membentuk wajah kota ini.
