
Dulu ia dianggap sebagai tarian banci yang ditolak oleh publik. Kini, Tari Ronggeng Bugis justru menjadi primadona di berbagai acara dan festival. Keunikannya terletak pada penari laki-laki dengan kostum dan riasan perempuan serta gerakan yang jenaka dan interaktif dengan penonton. Tarian ini dikembangkan oleh Sanggar Pringgadhing pada tahun 1990-an menjadi 17 ragam gerak. Perjalanan panjangnya dari penolakan hingga ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia menyimpan kisah yang menarik untuk diungkap.
Meski memiliki keunikan dan nilai sejarah yang tinggi, Tari Ronggeng Bugis ternyata belum banyak dikenal oleh generasi muda saat ini. Banyak anak muda menganggapnya sebagai tarian kuno atau bahkan kampungan karena tampilannya yang dianggap tidak biasa. Padahal, transformasi dari kesenian karnaval menjadi tarian panggung ini justru menunjukkan kecerdasan dan kreativitas para seniman Cirebon dalam mengolah tradisi. Sayangnya, regenerasi penari di Sanggar Pringgadhing semakin sulit dilakukan dari tahun ke tahun. Untuk memahami mengapa tarian ini layak dilestarikan, kita perlu menelusuri sejarahnya terlebih dahulu.
“Sebenarnya Tari Ronggeng Bugis tuh ada yang aslinya, Mbak. Kalau yang di Prigading tuh itu hanya yang ditata ulang,” ungkap Pak Windu, salah satu pengurus Sanggar Pringgadhing. Sebelum dikenal sebagai tarian kreasi, Ronggeng Bugis lebih dahulu dikenal sebagai kesenian rakyat yang berfungsi sebagai hiburan keliling untuk acara khitanan dan karnaval.
Jejak tari ini bermula dari temuan almarhum Pak Kartani, seorang budayawan Cirebon, di wilayah Cirebon Utara. “Ronggeng Bugis itu awalnya memang ditemukan di Cirebon Utara tuh ngamen,” jelasnya. Tarian asli tersebut dibawakan oleh seorang seniman dan berfungsi sebagai kesenian helaran. Sejak saat itu, tarian ini tumbuh menjadi salah satu kesenian rakyat yang memiliki pengaruh terhadap kehidupan sosial masyarakat sekitar.
Tari Ronggeng Bugis tidak muncul begitu saja menjadi tarian panggung. Keberadaan tarian tersebut berkaitan dengan peran Sanggar Pringgadhing yang didirikan oleh almarhum Pak Handoyo pada tahun 1974. Hubungan antara Pak Kartani dan Pak Handoyo kemudian melahirkan kolaborasi yang mengubah tarian ini menjadi 17 ragam gerak pada dekade 1990-an. “Akhirnya sama Pak Handoyo, ketemu dengan seniman aslinya, terus Pak Handoyo kembangin jadi 17 gerak gitu,” ungkapnya.
Perkembangan tarian terus berlanjut dari generasi ke generasi. Meskipun awalnya menuai kecaman publik sebagai tarian banci, Ronggeng Bugis kini menjadi tarian favorit di berbagai acara. “Ketika GR di Balai Kota, nongol Ronggeng Bugis tuh dapat, ‘Wah tarian bencong,'” kenangnya. Namun, setelah Pak Kartani menjelaskan semuanya, masyarakat pun bisa menerima. Kini, tarian tersebut telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dan terus dilestarikan melalui pendekatan yang selaras dengan minat generasi muda.
Meskipun awalnya menuai kecaman, Tari Ronggeng Bugis kini telah diterima luas dan menjadi kebanggaan masyarakat Cirebon. Di balik gerakannya yang jenaka, tersimpan kisah panjang tentang transformasi kesenian rakyat menjadi tarian panggung yang diakui secara nasional. Kisah kolaborasi antara Pak Kartani dan Pak Handoyo menunjukkan bahwa sebuah tarian dapat menjadi penanda identitas sekaligus pengingat akan perjalanan masa lalu. Tidak heran jika Ronggeng Bugis tetap bertahan dan terus berkembang dari generasi ke generasi.
Sebagai salah satu warisan seni yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda, Tari Ronggeng Bugis tidak hanya berperan dalam hiburan, tetapi juga menjaga sejarah yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Keberadaan tarian ini memperlihatkan bagaimana tradisi dan nilai-nilai budaya dapat terus bertahan di tengah perkembangan zaman. Melalui penelusuran sejarahnya, masyarakat dapat memahami bahwa seni tidak hanya terdapat dalam pertunjukan, melainkan juga dalam ingatan kolektif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
