
Nama Prabu Geusan Ulun tetap hidup dalam ingatan masyarakat Sumedang walau waktu telah berlalu lebih dari empat abad. Makamnya menjadi tempat ziarah dan penghormatan bagi sosok yang dianggap berjasa besar bagi kerajaan Sumedang Larang. Ironisnya, akhir perjalanan hidup sang raja justru terselimuti misteri yang belum mampu diungkap sepenuhnya oleh sejarah.
Kompleks makam Prabu Geusan Ulun terletak di Desa Dayeuh Luhur, Kecamatan Ganeas, Kabupaten Sumedang. Suasana yang tenang dan udara pegunungan yang sejuk menyelimuti kawasan tersebut, menghadirkan kesan sakral bagi para peziarah yang datang. Bagi masyarakat Sumedang, tempat ini bukan sekadar kawasan pemakaman, melainkan ruang untuk mengenang sosok pemimpin yang memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah daerah.
Berdasarkan keterangan Haji Aceng selaku narasumber atau kuncen di lokasi, Prabu Geusan Ulun merupakan putra dari Pangeran Santri atau Kusumadinata I dan Ratu Pucuk Umun. Sejak muda, ia dikenal sebagai sosok yang cerdas, bijaksana, serta memiliki kemampuan memimpin yang baik. Ketika memasuki usia dewasa, ia menerima amanah untuk memimpin Kerajaan Sumedang Larang dan kemudian dikenal dengan gelar Prabu Geusan Ulun. Masa pemerintahannya sering dikaitkan dengan perkembangan Islam di wilayah Sumedang Larang. Melalui pendekatan yang selaras dengan budaya Sunda, nilai-nilai Islam semakin diterima oleh masyarakat tanpa harus menghilangkan tradisi yang telah berkembang sebelumnya. Kebijakan tersebut membuat namanya tetap dikenang hingga saat ini sebagai salah satu penguasa yang berpengaruh dalam sejarah Sumedang.
Namun, di balik berbagai kisah mengenai kepemimpinan dan jasa-jasanya, terdapat satu persoalan yang hingga kini masih mengundang tanda tanya, yakni mengenai kematiannya. Berbeda dengan perjalanan hidup dan masa pemerintahannya yang cukup sering diceritakan dalam berbagai sumber lisan, informasi mengenai akhir hayat Prabu Geusan Ulun justru sangat terbatas.
Berdasarkan keterangan Haji Aceng, tidak terdapat catatan yang secara jelas menjelaskan penyebab kematian beliau. Sejarah tidak memberikan keterangan pasti apakah Prabu Geusan Ulun wafat karena sakit, faktor usia, atau sebab lainnya. Keterbatasan sumber tertulis dari masa tersebut membuat para peneliti dan masyarakat hanya dapat memperkirakan berbagai kemungkinan tanpa memperoleh jawaban yang benar-benar pasti. Bahkan tahun wafatnya pun belum diketahui secara pasti. Patokan yang umum digunakan dalam sejarah Sumedang adalah tahun 1601 M, yaitu saat putranya, Pangeran Aria Suriadiwangsa, mulai melanjutkan kepemimpinan Kerajaan Sumedang Larang. Oleh karena itu, tahun tersebut lebih sering digunakan sebagai penanda berakhirnya masa pemerintahan Prabu Geusan Ulun daripada sebagai bukti pasti mengenai waktu kematiannya.
Minimnya sumber sejarah mengenai akhir kehidupan Prabu Geusan Ulun menunjukkan bahwa masih terdapat banyak ruang kosong dalam historiografi lokal Sumedang. Sebagian besar informasi yang bertahan hingga sekarang berasal dari tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun. Meskipun memiliki nilai sejarah yang penting, tradisi lisan sering kali tidak mampu menjelaskan secara rinci peristiwa-peristiwa tertentu, termasuk mengenai kematian seorang tokoh besar seperti Prabu Geusan Ulun.
Hingga kini, kompleks makam di Dayeuh Luhur tetap ramai dikunjungi masyarakat yang ingin berziarah maupun mempelajari sejarah Sumedang. Keberadaan makam tersebut menjadi pengingat akan besarnya peran Prabu Geusan Ulun dalam perjalanan Kerajaan Sumedang Larang. Namun, bersamaan dengan itu, makam tersebut juga menjadi simbol sebuah misteri yang belum berhasil dipecahkan oleh waktu. Di balik kesunyian kompleks pemakaman itu, masih tersimpan pertanyaan yang terus mengundang rasa penasaran: bagaimana sebenarnya akhir hayat Prabu Geusan Ulun?
