
Pagi menjelang siang waktu itu dalam perjalanan spritual para peziarah dan aktivis datang. Alih-alih berziarah ke makam yang terdapat marmer dan besar tetapi dalam perjalanan spritual kali ini ke depan makam yang sangat sederhana bernisan putih sedikit berlumut tertulis pahlawan nasional Prof. Drs. Lafran Pane. Ketika peziarah dan aktivis datang kesana untuk menjadi insipirasi dalam meneruskan perjuangannya untuk lebih baik lagi.
“ Saya Lillahi Taala untuk Indonesia” kalimat yang sangat terkenal dari buku sejarah perjuangan HMI karya Drs. Agussalim Sitompul ungkapan dari sosok yang terkenal sederhana dan semangat loyalitas yang tingginya untuk Indonesia. Lafran Pane lahir dari kalangan akademisi tetapi masa kecilnya berbanding kebalik dari kakaknya, Sebut saja Sanusi Pane dan Armijn Pane (sastrawan angkatan pujangga baru). Ayahnya bernama Sutan Pangurabaan Pane (pendiri Muhammadiyah di Sipirok, Sumatra Barat). Semangat inilah yang dibawa Lafran Pane dalam mendirikan organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)
Sosok Lafran Pane selalu dikaitkan dengan sosok yang sederhana dan memiliki garis keturunan keluarga akademik yakni Sanusi Pane dan Armijn Pane mereka berdua angkatan pujangga baru. Tetapi jauh sebelumnya sosok Lafran Pane adalah sosok yang keras kepala, serta dikenal dengan kebandelannya.
Bahkan dalam buku “Merdeka Sejak Hati” karya A. Fuadi dijelaskan bahwa sosok Lafran Pane pernah mengikuti perkumpulan geng motor dan perkelahian antar kampung dan pernah menjadi petarung jalanan hinga dibayarkan sebagai upah. Namun titik balik seorang Lafran Pane adalah ketika dia sedang berkuliah di STI yang sekarang dikenal dengan UII (Universitas Islam Indonesia) dia merasa seorang mahasiswa muslim pada saat itu harus memiliki wadah untuk berkembang.
Lalu dia melihat mahasiswa disana jauh dari kata seorang muslim dalam artian selalu deket dengan maksiat maka dari itu Lafran Pane mendirikan HMI sebagai wadah seorang mahasiswa muslim dan puncaknya pada 5 Februari 1947 didirikan HMI di Yogyakarta. Karena jasa inilah dia angkat menjadi pahlawan nasional dan meninggal jejak perjuangannya untuk diteruskan sampai saat ini.
Makam karangkajen Islam menjadi saksi betapa para tokoh tokoh yang memikirkan umat Islam dan bangsa Indonesia dikebumikan, selain sosok Lafran pane terdapat sosok intelektual dan sekaligus pendiri Muhammadiyah, K.H Ahmad Dahlan. Lalu Melalui surat keputusan presiden Republik Indonesia Nomor : 657 Tahun 1961 tanggal 27 Desember 1961. Ditetapkan KH. Ahmad Dahlan sebagai tokoh pahlawan nasional.
Jika Lafran Pane menemukan titik baliknya di bangku perkuliahan, maka K.H. Ahmad Dahlan memulai langkah pembaharuannya setelah pulang dari tanah suci Mekah. Lahir dengan nama Muhammad Darwis beliau gelisah melihat kondisi umat Islam saat itu yang masih terkungkung dalam takhayul, bidah, dan khurafat, serta tertinggal secara ekonomi dan pendidikan akibat penjajahan. Kegelisahan inilah yang melahirkan Muhammadiyah pada 18 November 1912 di Yogyakarta. Melalui organisasi ini, K.H. Ahmad Dahlan mendobrak kemapanan dengan memurnikan ajaran Islam sekaligus memodernisasi sistem pendidikan dan pelayanan sosial, sebuah gerakan berkemajuan yang terus hidup dan melintasi zaman hingga saat ini.
“Mengingat keadaan tubuhku, Kiranya aku tidak lama lagi akan meninggalkan anak anakku semua, sedangkan aku tidak memiliki harta benda yang kutinggalkan kepadamu. Aku hanya memiliki Muhammadiyah yang akan kuwariskan kepadamu sekalian. Karena itu, aku titipkan muhammadiyah itu dengan sepenuh hati agar muhammadiyah bisa tersu berkembang selamanya“ inilah ungkapan KH. Ahmad dahlan di depan makamnya yang terdapat di makam islam karangkajen, Yogyakarta.
