Dari Seragam Guru ke Kostum Badut: Perjuangan Ana agar Cucunya Tak Mengulang Nasib yang Sama

Kala jarum jam menunjuk pukul 12.30 siang, Minggu 24 Mei 2026, ruas-ruas jalan di Kiaracondong, Bandung, dipenuhi deretan kendaraan yang saling berhimpitan di setiap sudut kotanya. Asap knalpot bercampur debu, bertarung, dan berterbangan di udara panas jalanan. Belum lagi, lampu lalu lintas silih berganti. Merah. Hijau. Lalu merah lagi. Jeda tunggunya cukup lama, membuat kendaraan tak henti menumpuk di badan jalan.

Jeda yang lama itu, kerap kali membuat para pengendara mengeluh karena terik matahari tidak memberi mereka banyak ruang untuk bersabar. Apalagi, atribut berkendara sudah cukup membuat mereka sesak. Di sisi lain, Ana 61 tahun, harus terus menahan sesak dalam kostum badut di usia senjanya. Kostum kepala badut kerap kali dilepas hanya untuk mengambil napas ketika terik matahari semakin menyengat. Garis-garis usia pun terlihat di wajahnya.

Kostum badut yang dikenakannya tampak kusam. Baju dan celana badutnya tak lagi senada. Jahitannya pun mulai longgar dibeberapa bagian. Ia tak mampu membeli kostum yang baru, hanya mampu mengenakan pakaian seadanya. Kostum kepala badutnya pun jauh dari kesan lucu, tidak seperti badut-badut lainnya.

Tidak ada pengeras suara yang mengiringi gerak tubuhnya. Ana hanya mampu menggenggam celengan plastik kosong yang sudah pudar, berharap ada kepingan rupiah yang mengisi celengan plastik kosongnya.

Tak banyak orang tahu, bahwa selain kasih sayang kepada cucunya, ada kisah panjang tentang kehilangan, kekecewaan, kegagalan, dan perjuangan yang sampai saat ini tidak pernah selesai.

Ana adalah seorang ibu sekaligus nenek yang menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga, bahkan hingga masa tuanya. Bukan karena ditelantarkan, tetapi keadaan yang memaksanya terus berjuang. Ana memiliki seorang anak perempuan yang telah menikah dan memiliki dua anak yang kini menjadi cucunya. Cucu pertamanya, kini duduk di bangku kelas 11 SMK. Sementara cucu keduanya, kini duduk di bangku kelas 6 SD.

Ibu dari kedua cucunya mengidap penyakit selama belasan tahun terakhir. Penyakit itu, membuatnya terbaring lemah. Sementara suaminya, telah lama meninggal dunia. Ana tak ingin membiarkan kedua cucunya putus sekolah hanya untuk bekerja. Akhirnya, Ana rela menghabiskan masa tuanya untuk bertarung dengan kerasnya kehidupan.

Tanpa patah semangat, pukul 07.00 pagi, Ana sudah mulai bekerja sebagai badut jalanan, menyusuri setiap lampu lalu lintas Kiaracondong. Langkah yang sudah tak lagi lincah membuatnya kehilangan kesempatan karena lampu hijau sudah lebih dulu menyala. Ketika mulai kelelahan, Ana duduk sejenak di bahu jalan seraya mengusap keringatnya. Terik matahari membuat napasnya terengah-engah, dan terasa membakar karena kostum yang tebal. Namun hidup, tidak memberinya pilihannya pilihan untuk beristirahat.

Sebelum Ana berprofesi menjadi badut jalanan, Ana pernah mencoba menjadi penjual makanan pasar. Tetapi harga bahan makanan yang semakin naik, membuat keuntungan Ana semakin menipis. Sementara para pembeli terus menginginkan harga yang murah. Terpaksa, agar mendapat keuntungan yang layak, Ana menaikan harga makanannya. Tetapi saat itu, keadaan tidak berpihak padanya. Perlahan, penjualannya merosot, hingga Ana terpaksa harus berhenti menjual makanan di pasar.

“Jadi Neng, nenek dulu pernah jual makanan di pasar. Tapi kan tau sendiri ya, sekarang harga sembako makin naik. Nenek bingung, kalo harus naikin harga takut gak laku, kalo tetep harga segini nenek dapetnya kecil. Kalo kecil mah da ngapain malah capeknya, jadi nenek naikin sedikit, taunya malah ga laku”, ujar Ana dengan nada keluh kesahnya.

Tidak berhenti di situ, Ana mencoba pekerjaan lain dengan menjadi buruh harian. Upah buruh harian terbilang cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok hariannya. Tetapi risikonya, jika tidak ada panggilan, maka tidak bekerja.

“Nenek juga sebelum jadi badut kaya gini, pernah jadi yang cuci-cuci di rumah orang, beres-beres. Alhamdulillah udah enak lah, tapi ya gitu kalo ga dipanggil, ya gak kerja. Dari situ teh, udah weh Nenek jualan di pasar lagi, jual sayur”, ujar Ana seraya melanjutkan pengalaman pekerjaannya.

Menjadi buruh harian lepas, membuat Ana terus berharap pada ketidakpastian. Keadaan itu membuatnya lelah dan khawatir. Ia tak mungkin terus berdiam diri. Akhirnya, dengan kesempatan yang ada, Ana menjual sayuran di pasar. Sayuran yang dijualnya itu, bukan hasil berkebun dirinya. Ia hanya mengambil sayuran dari pemasok dengan harga Rp.500, kemudian ia jual dengan harga Rp.700.

“Nenek jual sayuran tapi dapetnya tipis. Nenek coba aja, daripada gak dapet pemasukan, kan. Emang kejualnya teh banyak, biasanya 70 kejual. Tapi nenek dapetnya tetep kecil, satunya Rp.200 perak, ya 200 perak aja kali 70, nah cuma Rp. 14.000 sehari teh”, ujar Ana.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan kenyataan yang pahit. Empat belas ribu rupiah mungkin tak berarti bagi sebagian orang. Namun bagi Ana, uang itu menentukan apakah keluarganya bisa makan hari ini atau tidak.

Kini Ana memilih menjadi badut jalanan, karena penghasilannya dianggap lebih baik dari pekerjaan-pekerjaan sebelumnya. Kini, sudah hampir dua tahun Ana menekuni pekerjaan sebagai badut jalanan.

“Kalau jadi badut, sedikitnya dapat Rp. 20.000, apalagi kalau ketemu orang baik, masya Allah alhamdulillah”, ujar Ana seraya mengusap dada.

Bagi sebagian orang, uang dua puluh ribu rupiah mungkin bisa dihabiskan untuk membeli kopi di café. Namun bagi Ana, uang dua puluh ribu adalah beras, lauk sederhana, ongkos sekolah, dan harapan agar cucunya tetap bisa melanjutkan pendidikan.

Ana sadar pekerjaannya sering dipandang sebelah mata. Tidak sedikit orang yang memandangnya sekilas, lalu pergi tanpa peduli. Namun Ana memilih untuk menelan semuanya diam-diam. Harga dirinya mungkin terluka, tetapi rasa cintanya kepada keluarga jauh lebih besar daripada rasa malu yang harus ia tanggung.

Terkejutnya, sebelum berdiri di lampu merah dengan kostum badut yang lusuh, Ana pernah menghabiskan hari-harinya di depan papan tulis sekolah dasar.

Pada tahun 1970-an, Ana pernah menjadi guru di SDN 1 Warunggunung, Rangkasbitung, Banten. Kala itu, penghasilan yang ia dapatkan dari profesinya sebagai seorang guru adalah Rp. 15.000 per bulan. Angka yang terbilang cukup untuk memenuhi kebutuhan saat itu, meski masih terbilang kecil.

Tahun 1983, Ana merantau ke Tangerang setelah menerima tawaran bekerja di sebuah pabrik suku cadang, dengan tawaran upah sebesar Rp. 35.000 per bulan. Tawaran yang tinggi dari profesi guru. Tanpa ragu, Ana melepas profesi gurunya, dan merantau ke Tangerang. Berharap hidupnya menjadi lebih baik. Namun, kenyataan berjalan berbeda.

Pekerjaan itu ternyata tidak bertahan lama. Ana menyerah. Bidang yang ditempatkan untuk Ana dirasa terlalu berat, hingga Ana tidak mampu lagi menekuni pekerjaan tersebut. Setelahnya, hidup terus membawanya berpindah dari satu kesulitan ke kesulitan lainnya. Tahun demi tahun berlalu, hingga pada akhirnya, Ana harus kembali berjuang dari bawah.

Hingga sampailah pada titik, Ana menjadi badut jalanan di usianya yang tak lagi muda. Di balik kostum badut itu, ada cinta yang terus menopangnya untuk bertahan. Kisahnya, cukup menjadi alasan kuat bagi Ana untuk terus memperjuangkan pendidikan kedua cucunya.

Perjalanannya bukan sebuah kesalahan, Ana hanya seorang perempuan yang berusaha mencari jalan agar hidupnya lebih baik. Banyak sekali hal yang terjadi di luar kendalinya. Bahkan hingga saat ini pun ia tidak meminta belas kasihan, ia hanya ingin kedua cucunya tetap sekolah. Dan untuk itu, ia rela berdiri berjam-jam di bawah matahari, memakai kostum badut yang semakin lusuh dari hari ke hari. 

 

 

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!