Di Balik Donat Lima Ribu Rupiah: Perjuangan Kepala Keluarga Asal Cicalengka

         Matahari siang itu bersinar begitu terik. Udara panas bercampur debu jalanan membuat sebagian orang memilih berteduh di dalam ruangan berpendingin udara. Namun, di tengah ramainya kendaraan yang berlalu-lalang dan orang-orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing, seorang pria paruh baya masih terus melangkah sambil membawa wadah berisi donat.

        Langkahnya tidak lagi cepat seperti saat muda. Sesekali ia mengusap keringat dengan punggung tangan sebelum kembali menghampiri calon pembeli. Senyum ramah selalu ia pasang meski beberapa orang hanya melirik sekilas lalu berlalu tanpa membeli. Ia tetap menawarkan dagangannya dengan suara pelan dan sopan, seolah tidak ingin mengganggu kesibukan siapa pun.

        Ketika rasa lelah mulai menyerang, pria itu memilih duduk sejenak di tempat teduh. Kadang di depan minimarket, kadang di emperan toko yang sepi. Setelah tenaganya kembali pulih, ia bangkit dan melanjutkan perjalanan.

         Sebut saja namanya Pak Rianto (nama samaran), usianya 52 tahun, warga Cicalengka yang setiap hari berkeliling menawarkan donat demi menghidupi keluarganya.

       Rutinitas Pak Rianto dimulai sejak subuh. Setelah menunaikan salat Subuh, ia langsung bersiap untuk berangkat berjualan. Dari rumahnya, ia menaiki elf menuju lokasi tempat ia biasa mencari pembeli. Setelah seharian berkeliling, ia pulang menggunakan kereta. Perjalanan yang cukup panjang itu harus ditempuh setiap hari demi mendapatkan penghasilan untuk keluarganya.

“Sesudah salat Subuh langsung berangkat,” ujarnya. Baginya, semakin pagi memulai aktivitas, semakin besar peluang untuk mendapatkan pembeli.

        Donat yang dijual Pak Rianto bukanlah produk titipan atau hasil produksi pabrik. Semua dibuat sendiri dengan bahan dan peralatan yang dimilikinya. Namun, mempertahankan usaha donat di tengah perkembangan kuliner saat ini bukanlah hal yang mudah. Menurutnya, minat masyarakat terhadap donat semakin berkurang karena banyaknya makanan kekinian yang lebih diminati. “Daya belinya kurang, karena sekarang sudah banyak makanan kekinian, kayak seblak. Kalau donat kan makanan jadul, zaman dulu,” katanya. Meski demikian, ia tetap memilih bertahan karena usaha inilah yang menjadi sumber penghasilannya saat ini.

       Dalam sehari, omzet yang diperoleh Pak Rianto berkisar Rp200.000. Akan tetapi, jumlah tersebut belum termasuk biaya bahan baku, ongkos transportasi, plastik kemasan, dan berbagai kebutuhan produksi lainnya. Kenaikan harga bahan baku yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir juga menjadi tantangan tersendiri bagi usahanya. Banyak pedagang memilih menaikkan harga jual untuk menyesuaikan biaya produksi, tetapi Pak Rianto masih mempertahankan harga donatnya sebesar Rp5.000 perbuah.

“Orang-orang ada yang jual tujuh ribu sampai delapan ribu, saya bertahan lima ribu. Belum plastik, belum ongkos, tapi daripada enggak dapat uang sama sekali,” tuturnya.

      Menurutnya, keuntungan yang sedikit tetap lebih baik daripada tidak mendapatkan penghasilan sama sekali.

       Sebelum berjualan donat, Pak Rianto telah menjalani berbagai usaha untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Pada masa krisis moneter, ia pernah berjualan cimol. Setelah itu, ia beralih menjadi pedagang topi dan menekuni usaha tersebut selama bertahun-tahun. Namun, pandemi Covid-19 membawa perubahan besar dalam kehidupannya. Menurunnya aktivitas masyarakat membuat usaha yang dijalankannya mengalami kesulitan hingga modal yang dimiliki perlahan habis. Kondisi tersebut memaksanya berhenti berdagang selama kurang lebih tiga tahun.

“Pas jualan topi, muncul corona sampai akhirnya vakum sekitar tiga tahun karena modal habis,” kenangnya.

         Masa vakum tersebut menjadi salah satu periode paling sulit yang pernah dialaminya. Selama beberapa bulan, ia tidak memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan, ia pernah menjual tabung gas miliknya untuk membeli makanan.

“Sampai jual tabung gas buat makan,” ujarnya.

          Ketika keadaan semakin sulit, Pak Rianto meminjam uang sebesar Rp2.000.000 dari seorang teman sebagai modal untuk memulai usaha kembali. Dari modal itulah ia mulai merintis usaha donat keliling yang dijalaninya hingga sekarang. Meski sudah kembali berdagang, ia masih berusaha mengumpulkan uang untuk melunasi utang tersebut. “Sekarang lagi ngumpulin buat bayar utang,” katanya.

         Dalam menjalankan usahanya, yaitu berjualan donat, Pak Rianto tidak memiliki tempat berjualan tetap. Ia mengandalkan penjualan keliling dan menyesuaikan lokasi dengan peluang yang ada.

“Saya dagangnya Cuma keliling aja. Kalau capek diem dulu. Kadang di Indomaret, di mana aja,” ujarnya.

        Di tengah persaingan usaha, kenaikan harga bahan baku, dan kondisi ekonomi yang tidak menentu, Pak Rianto tetap berusaha menjalani pekerjaannya dengan penuh kesabaran. Pengalaman hidup yang panjang membuatnya memiliki pesan sederhana bagi generasi muda, yakni agar tidak malas dan memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat.

 “Jangan malas, lebih sering melakukan aktivitas yang bermanfaat dan positif. Kurangi berkumpul untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, harus banyak belajar,” pesannya.

        Kisah Pak Rianto menunjukkan bahwa di balik donat seharga lima ribu rupiah yang ia jual setiap hari, terdapat perjuangan seorang ayah yang terus bekerja keras demi menjaga harapan dan keberlangsungan hidup keluarganya.

 

 

 

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!