Toko Handycraft Gamelan Dan Marawis Cileunyi Dalam Menjaga Warisan Budaya Nusantara

Toko Handycraft gamelan dan marawis di Cileunyi bukan sekadar tempat jual beli alat musik tradisional, melainkan ruang tempat budaya bernapas pelan namun tetap hidup. Dari tangan para pengrajin, kayu dan kulit rebana diolah menjadi nada-nada yang terus mengetuk ingatan masyarakat akan pentingnya menjaga warisan seni daerah.

            Menurut Anngga Legiana (28) selaku pengrajin sekaligus anak dari pemilik toko Handycraft menjelaskan bahwa awal mula merintis Handycraft ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1990-an, namun kemudian baru mulai beroperasi di toko yang sekarang sejak 2016. Alamat toko Handycraft sendiri terletak di Jl. Cileunyi-Cipacing, Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung. Adapun alat-alat yang di jual di toko Handycraft yaitu gamelan dan alat musik islami seperti marawis, hadroh, terbangan, alat musik nasyid.

            Toko yang telah berdiri selama bertahun-tahun itu menjadi salah satu sentra pembuatan alat musik tradisional dan islami yang sudah lama ada di wilayah Kabupaten Bandung. Berbagai produk seperti gamelan, marawis, hadroh, terbangan, hingga bedug dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan pesantren, majelis taklim, sekolah, dan komunitas seni. “Alhamdulillah, pesanan tidak hanya datang dari wilayah Bandung Raya, tetapi juga dari sejumlah daerah di Jawa Barat dan luar pulau”, ujar Angga Legiana ketika di wawancara.

            Di toko sederhana ini, proses produksi masih dilakukan secara tradisional. Pengrajin memanfaatkan keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun untuk membentuk kayu dan kulit menjadi alat musik yang siap digunakan. Ketelitian menjadi hal utama karena kualitas suara sangat bergantung pada pemilihan bahan dan proses pengerjaannya. Pemilik usaha menuturkan bahwa minat masyarakat terhadap alat musik tradisional masih cukup tinggi, terutama menjelang berbagai kegiatan keagamaan dan perlombaan seni budaya. Menurut pemilik, keberadaan alat musik Islami tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Selain digunakan sebagai sarana hiburan, alat musik tersebut juga menjadi media pendidikan, dakwah, dan pelestarian budaya.

            Meski masih bertahan hingga saat ini, usaha kerajinan gamelan dan marawis di Cileunyi menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks. Salah satu tantangan terbesar adalah perubahan minat masyarakat, khususnya generasi muda, yang cenderung lebih akrab dengan musik modern dan teknologi digital. Kemudahan mengakses berbagai jenis musik melalui gawai (gadget) membuat alat musik tradisional semakin jarang dijadikan pilihan utama untuk dipelajari maupun dimainkan.

               Meski demikian, para pengrajin tetap optimistis. Mereka percaya bahwa alat musik tradisional akan tetap memiliki tempat di hati masyarakat selama nilai budaya yang dikandungnya terus diperkenalkan kepada generasi muda. “Kalau alat musik ini tidak dijaga, bukan hanya barangnya yang hilang, tetapi juga cerita dan nilai budaya yang ada di dalamnya,” ujar salah seorang pengrajin.           Bagi mereka, setiap alat musik yang selesai dibuat bukan sekadar produk untuk dijual. Ia adalah bagian dari upaya menjaga agar suara tradisi tetap terdengar di tengah perubahan zaman.

Scroll to Top
Abah
Abah Ahli Sejarah & Mitos
Abah
Sampurasun, Cucu Abah! Ayo duduk dulu di sini. Kalau ada pertanyaan soal sejarah, budaya, atau mitos leluhur, silakan tanyakan saja. Abah sudah siap mendongeng!